JAKARTA – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan bahwa negaranya memiliki niat kuat untuk mengakhiri perang yang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Namun, ia menegaskan bahwa Teheran hanya akan menerima penghentian konflik jika sejumlah syarat penting dipenuhi, termasuk jaminan agar serangan agresif dari pihak AS dan Israel tidak terulang lagi.
Baca Juga: Indonesia Temukan Pemasok Minyak Mentah Pengganti Timur Tengah, Siapa yang Siap Menyokong? Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam sebuah percakapan telepon dengan Presiden Dewan Eropa pada Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, meskipun Iran berkomitmen untuk mengakhiri peperangan, solusi damai hanya akan tercapai jika serangan dari pihak lawan dihentikan sepenuhnya.
"Kami memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri konflik ini, asalkan syarat-syarat penting terpenuhi—terutama jaminan yang diperlukan untuk mencegah terulangnya agresi," ujar Pezeshkian dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh kantor kepresidenannya.
Iran juga mengusulkan agar suatu mekanisme penjaminan dibentuk untuk memastikan bahwa baik Israel maupun AS tidak akan melanjutkan agresi mereka di masa depan.
Langkah tersebut adalah bagian dari lima poin balasan Iran terhadap 15 poin rencana perdamaian yang diserahkan AS.
Perang yang berlangsung antara Iran dan AS-Israel ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika serangan udara besar-besaran dari AS dan Israel menargetkan fasilitas-fasilitas penting di Iran.
Hal ini memicu serangan balasan dari Iran berupa rudal dan drone yang mengarah ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Salah satu dampak besar dari eskalasi ini adalah penutupan Selat Hormuz, jalur perdagangan vital yang mengalirkan 20 persen pasokan minyak dunia.
Sejak awal konflik, ekonomi global terdampak parah, sementara jalur penerbangan internasional juga terganggu akibat serangan-serangan yang terus berlangsung.
Meski demikian, Pezeshkian menyatakan bahwa penghentian serangan adalah langkah pertama yang harus dicapai sebelum perdamaian bisa terwujud.