WASHINGTON DC – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan kedatangan sekitar 3.500 pasukan tambahan di Timur Tengah melalui kapal USS Tripoli, Sabtu (27/3/2026).
Kedatangan pasukan ini memicu spekulasi bahwa AS tengah bersiap melakukan operasi darat ke Iran.
Dilansir Al-Jazeera, Minggu (29/3/2026), Pasukan marinir tersebut tergabung dalam Unit Ekspedisi Marinir ke-31, dilengkapi pesawat angkut, pesawat tempur serang, serta aset serbu amfibi dan taktis.
Baca Juga: Airlangga Hartarto Tegaskan Setiap Kebijakan Energi dan WFH Dikaji Komprehensif untuk Stabilitas Nasional Sementara itu, militer AS juga diperkirakan akan menambah ribuan tentara lagi dari Divisi Lintas Udara ke-82.
Menurut laporan Washington Post, Departemen Pertahanan AS sedang mempersiapkan operasi darat yang bisa melibatkan pasukan khusus dan pasukan infanteri konvensional.
Namun, sejauh ini belum jelas apakah Presiden Donald Trump akan menyetujui rencana tersebut sepenuhnya, sebagian, atau menolaknya.
Ketegangan meningkat setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Iran membalas dengan serangan ke Israel dan fasilitas AS di negara-negara Teluk.
Selain itu, Iran melakukan kontrol ketat di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak dan gas penting dunia, yang memicu lonjakan harga minyak global.
Presiden Trump menyerukan Iran untuk menerima kekalahan dan memperingatkan akan "melepaskan malapetaka" jika blokade Selat Hormuz berlanjut. AS juga meminta bantuan negara lain untuk membuka jalur perdagangan tersebut, namun ajakan ini ditolak.
Dengan pengerahan pasukan tambahan ini, dunia kini menanti langkah AS berikutnya, sementara risiko eskalasi konflik di Timur Tengah semakin meningkat.*
(d/dh)