TEHERAN – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan bahwa negara tersebut telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan kapal-kapal yang tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat (AS) atau Israel dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Senin (23/3).
Baca Juga: Kapan Bursa Efek Indonesia Kembali Dibuka? IHSG Diprediksi Menguat, Tapi Sentimen Geopolitik Menjadi Tantangan Menurut Pezeshkian, Iran akan melakukan koordinasi yang diperlukan bagi kapal-kapal yang tidak terlibat dalam konflik dengan AS dan Israel, yang dianggap sebagai pihak "agresor".
"Iran telah memastikan keamanan jalur pelayaran ini dan akan melakukan koordinasi dengan kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor," ujar Pezeshkian.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, telah menjadi fokus ketegangan internasional setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan di beberapa lokasi strategis di Teheran dan menewaskan sejumlah warga sipil.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan target militer AS di Timur Tengah, memicu eskalasi yang mengarah pada blokade de facto Selat Hormuz.
Keputusan ini mempengaruhi aktivitas perdagangan internasional, khususnya ekspor dan produksi minyak yang sangat bergantung pada jalur pelayaran ini.
Sebelumnya, pada Minggu (22/3), Ali Mousavi, perwakilan tetap Iran untuk Organisasi Maritim Internasional (IMO), menegaskan bahwa seluruh kapal, kecuali yang dianggap sebagai "musuh", dapat melintasi Selat Hormuz dengan melakukan koordinasi yang diperlukan dengan Iran.
Hal ini menggambarkan niat Iran untuk menjaga jalur pelayaran internasional tetap terbuka, meski situasi geopolitik semakin tegang.
Gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz memengaruhi stabilitas ekonomi global, terutama terkait dengan harga energi.