WASHINGTON D.C. – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi pada Kamis (19/3/2026) bahwa dirinya telah memperingatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak lagi menyerang ladang minyak dan gas di Iran.
Pernyataan ini muncul setelah serangan militer Israel dan AS yang menyasar fasilitas energi Iran, khususnya ladang gas South Pars dan zona industri Asaluyeh.
"Saya telah memperingatkan Netanyahu agar tidak melakukan hal itu lagi, dan dia tidak akan melakukannya," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Baca Juga: Usai 4 Tahun Vakum, BTS Resmi Comeback dengan Album Arirang dan Video Klip Swim! Meskipun ada ketegangan yang meningkat terkait serangan tersebut, Trump menegaskan bahwa hubungan AS dengan Israel tetap baik.
Peringatan ini datang setelah sebuah laporan yang dirilis kantor berita Tasnim pada Rabu (18/3), yang mengungkapkan bahwa Israel dan Amerika Serikat telah menyerang fasilitas energi utama Iran, termasuk ladang gas terbesar di South Pars.
Serangan ini menyebabkan kebakaran besar di kawasan Asaluyeh, yang merupakan pusat pemrosesan gas di Iran.
Serangan militer AS dan Israel dimulai pada 28 Februari 2026, dengan tujuan untuk mencegah ancaman yang dianggap muncul dari program nuklir Iran.
Serangan tersebut menimbulkan kerusakan besar di fasilitas energi Iran dan memicu banyak korban jiwa, termasuk tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Meskipun tindakan ini digambarkan sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman nuklir Iran, Washington dan Tel Aviv juga tidak menyembunyikan keinginan mereka untuk melihat perubahan rezim di negara itu.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan balasan yang menghantam sejumlah target militer AS dan fasilitas di wilayah Israel, memperburuk ketegangan yang sudah memuncak di Timur Tengah.
Menanggapi serangan ini, sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, telah mengumumkan kesiapan mereka untuk mengirim pasukan untuk menjaga keamanan di Selat Hormuz, dengan syarat adanya gencatan senjata antara AS dan Iran.
Gencatan senjata ini diharapkan dapat menurunkan ketegangan yang terus meningkat di kawasan tersebut, yang juga memengaruhi stabilitas energi global.