JAKARTA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya muncul ke publik untuk pertama kalinya sejak konflik bersenjata antara Israel dan Iran meletus pada 28 Februari 2026.
Kemunculan Netanyahu sekaligus membantah rumor mengenai kematiannya yang sempat beredar di sejumlah media Iran, termasuk laporan kantor berita semi-pemerintah Tasnim.
Dalam konferensi pers pada Kamis (12/3), Netanyahu menyatakan serangan Israel terhadap Iran telah memberikan pukulan berat terhadap kemampuan militer dan program nuklir negara tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Lagi! Kini Rp 3.021.000/Gram "Iran bukan lagi Iran yang sama," kata Netanyahu, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Ia mengklaim serangan Israel telah menewaskan sejumlah ilmuwan nuklir terkemuka Iran serta merusak infrastruktur militer, termasuk milik Islamic Revolutionary Guard Corps dan pasukan Basij.
Menurut Netanyahu, operasi militer yang dimulai pada 28 Februari itu juga berhasil mencegah Iran memindahkan proyek nuklir dan sistem rudal balistiknya ke fasilitas bawah tanah.
Dalam konferensi pers tersebut, Netanyahu juga menanggapi kepemimpinan baru Iran setelah munculnya Mojtaba Khamenei.
Ia menyebut tidak akan memberikan jaminan keselamatan kepada pemimpin Iran tersebut maupun pemimpin Hizbullah Naim Qassem.
"Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun," kata Netanyahu.
Ia bahkan menyebut Mojtaba Khamenei sebagai "boneka Garda Revolusi" yang tidak mampu tampil secara terbuka di tengah situasi perang.
Sementara itu, Iran juga melancarkan serangan balasan berupa drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk.
Serangan tersebut dilaporkan memaksa beberapa terminal minyak menghentikan operasionalnya dan memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas kawasan.