TEHERAN – Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, resmi dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran oleh Majelis Pakar, satu minggu setelah wafatnya sang ayah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.
Keputusan ini menegaskan dominasi kelompok garis keras dalam politik Teheran.
Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior menyatakan Mojtaba, 56 tahun, sebagai penerus mendiang Khamenei.
Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp17.000! Tembus Level Tertinggi Sejak Pandemi dan Krisis 1998 "Seorang kandidat dipilih sesuai arahan almarhum Khamenei: pemimpin tertinggi harus 'dibenci oleh musuh'," ujar anggota Majelis Pakar Mohsen Heidari Alekasir.
Pernyataan ini disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang "tidak dapat diterima".
Mojtaba dikenal memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan jaringan bisnis keluarga yang luas.
Posisi ini memberinya pengaruh kuat dalam politik dan keamanan, meskipun ia jarang tampil di publik dan tidak pernah memegang jabatan formal pemerintahan.
Lahir di Mashhad pada 1969, Mojtaba tumbuh di tengah perlawanan terhadap rezim Shah dan ikut bertugas dalam Perang Iran-Irak.
Ia menempuh pendidikan agama di Qom dan meraih gelar Hojjatoleslam, satu tingkat di bawah pangkat Ayatollah.
Kritikus menilai gelarnya tidak cukup untuk memimpin negara, namun loyalitasnya kepada garis keras membuatnya menjadi kandidat utama.
Pemimpin Tertinggi Iran memegang kendali penuh atas urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir.
Kekhawatiran internasional muncul karena langkah ini menandakan keberlanjutan politik garis keras, yang kemungkinan menekan tuntutan reformasi internal dan menimbulkan ketegangan lebih lanjut dengan Barat.