TEHERAN – Militer Israel mengklaim telah menghancurkan Kantor Kepresidenan Iran dan sejumlah fasilitas strategis lain, termasuk gedung Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, sebagai bagian dari kampanye militer berkelanjutan melawan Iran, Selasa (3/3/2026).
Dalam pernyataan resmi yang disebarkan melalui kanal Telegram Pasukan Pertahanan Israel (IDF), operasi udara tersebut menargetkan fasilitas penting di kompleks kepemimpinan Iran, termasuk lembaga pelatihan militer dan infrastruktur kritis lainnya.
IDF menyebut bahwa sejumlah besar amunisi dijatuhkan dalam serangan tersebut.
Baca Juga: Propam Polda Sulsel Ungkap Aliran Dana Bandar Sabu Senilai Rp13 Juta per Minggu ke Kasat Narkoba Toraja Utara "Angkatan Udara Israel menyerang dan menghancurkan fasilitas di dalam kompleks kepemimpinan rezim (...) di jantung Teheran semalam," tulis IDF, dikutip AFP.
Serangan ini berlangsung beberapa hari setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal di kompleks kediamannya akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu.
Kantor kepresidenan yang diserang sebelumnya digunakan oleh Khamenei sebagai pusat kegiatan resmi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi eskalasi tersebut dengan memperingatkan kemungkinan konflik berkepanjangan.
"Sejak awal, kami memperkirakan empat hingga lima minggu, tetapi kami mampu bertahan jauh lebih lama dari itu," kata Trump, dikutip NDTV.
Trump menegaskan bahwa AS siap menghadapi operasi militer yang berlanjut, bahkan lebih dari sebulan.
Pengamat internasional menilai serangan ini menandai eskalasi serius ketegangan di Timur Tengah.
Serangan yang menargetkan kantor pusat pemerintah Iran sekaligus infrastruktur strategis bisa memperdalam konflik, memperbesar risiko terjadinya respons militer dari Iran, serta memicu krisis keamanan regional.
Meski IDF menyatakan operasi ini terukur, dampaknya terhadap stabilitas politik dan keamanan kawasan masih menjadi perhatian komunitas internasional.