TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah tiga negara Eropa, Perancis, Jerman, dan Inggris, menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah defensif terkait serangan Iran, Minggu (1/3/2026).
Langkah ini bertujuan melindungi kepentingan mereka di kawasan Teluk jika konflik terus meluas.
Serangan rudal Iran dilaporkan menyasar beberapa negara di kawasan, termasuk wilayah yang tidak terlibat langsung dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Meningkat: Hizbullah Serang Israel Sebagai Respons Kematian Ali Khamenei Para pemimpin Eropa mengutuk aksi Teheran yang dianggap tidak proporsional dan menyerukan Iran untuk segera menghentikan serangan.
"Serangan sembrono Iran telah menargetkan sekutu dekat kami dan mengancam personel militer serta warga sipil di seluruh wilayah," bunyi pernyataan resmi ketiga negara.
Mereka juga menegaskan kesepakatan untuk bekerja sama dengan AS dan sekutu lain dalam merespons serangan.
Sejumlah fasilitas militer Eropa menjadi target rudal dan drone Iran. Di antaranya, pangkalan militer multinasional dekat Arbil, Irak, dan kamp tentara Jerman di timur Yordania. Tidak ada korban jiwa dalam serangan-serangan tersebut.
Garda Revolusi Iran mengumumkan serangan berskala besar menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Ledakan terdengar di Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, dan Tel Aviv. Layanan darurat Israel melaporkan sembilan orang tewas di kota Beit Shemesh.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, pembunuhan Khamenei sebagai deklarasi perang terhadap umat Muslim.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Iran akan membela diri tanpa batasan.
Konflik ini menambah ketidakpastian di Timur Tengah, di tengah ancaman eskalasi militer yang dapat melibatkan negara-negara besar Eropa dan Amerika Serikat.*