MEKSIKO– Kematian Nemesio Ruben Oseguera Cervantes, alias "El Mencho", pemimpin Cartel Jalisco Nueva Generacion (CJNG), mengundang gelombang kekerasan yang memengaruhi berbagai sektor, termasuk olahraga di Meksiko.
Setelah tewas dalam operasi militer di negara bagian Jalisco, situasi keamanan yang semakin memburuk menyebabkan beberapa pertandingan sepak bola terpaksa ditunda, termasuk dua laga kasta tertinggi Liga MX.
Operasi militer yang menewaskan El Mencho memicu serangkaian tindakan balasan dari anggota kartel, seperti pembakaran kendaraan dan pemblokiran jalan di hampir selusin negara bagian.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.855/US$ di Tengah Pelemahan Dolar AS Dalam kondisi darurat ini, sejumlah pertandingan yang dijadwalkan pada Minggu (22/2/2026) terpaksa dibatalkan, di antaranya adalah pertandingan antara Queretaro melawan Juarez FC serta laga liga wanita antara Chivas kontra America.
Dua laga lainnya yang juga terpengaruh adalah pertandingan di divisi dua yang juga batal digelar akibat situasi yang mencekam.
Menjelang Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Meksiko, AS, dan Kanada, kematian El Mencho membawa dampak signifikan terhadap kesiapan kota-kota tuan rumah, termasuk Guadalajara, ibu kota negara bagian Jalisco, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah empat pertandingan Piala Dunia pada Juni mendatang.
Dua pertandingan tersebut akan melibatkan tim-tim besar seperti Korea Selatan, Spanyol, Uruguay, dan Kolombia, yang dipastikan terpengaruh oleh situasi keamanan saat ini.
Kendati begitu, tim nasional Meksiko dijadwalkan menghadapi Islandia dalam laga persahabatan pada Rabu di Stadion Corregidora, Queretaro, namun hingga kini, Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) belum mengumumkan keputusan resmi terkait apakah pertandingan tersebut akan ditunda atau tetap berlangsung.
El Mencho tewas setelah terluka dalam serangan militer di Tapalpa, sekitar dua jam perjalanan darat dari Guadalajara.
Ia kemudian meninggal dunia saat diterbangkan menuju Mexico City untuk mendapatkan perawatan medis.
Kematian sang bos kartel ini memicu serangan balasan dari anggota CJNG yang membakar kendaraan dan memblokir jalan di hampir seluruh negara bagian Meksiko.
CJNG selama ini dikenal sebagai kartel paling kuat di Meksiko, dengan sekitar 19.000 anggota yang terlibat dalam operasi di 21 dari 32 negara bagian.