JAKARTA– Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menegaskan bahwa 8.000 personel TNI yang tergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) tidak akan melakukan operasi militer ofensif di Gaza.
Pasukan Indonesia hanya diperkenankan bertindak defensif untuk menjaga diri bila menghadapi ancaman langsung.
"Kita sudah sampaikan national caveats ke ISF. Artinya, kita tidak melakukan operasi militer ofensif, pelucutan senjata, maupun demiliterisasi. Tugas kita adalah menjaga masyarakat sipil kedua belah pihak," ujar Sugiono dalam konferensi pers di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (21/2/2026).
Baca Juga: Diplomasi Prabowo Berhasil, Tarif Impor AS ke Indonesia Turun dari 32% Jadi 19% Sugiono menegaskan keterlibatan Indonesia dalam misi ini bersifat kemanusiaan dan diplomatik internasional, bukan bagian dari hubungan bilateral dengan pihak tertentu.
Penempatan pasukan akan mengikuti pembagian wilayah operasi yang telah dirancang Dewan Perdamaian (Board of Peace), di mana total pasukan gabungan mencapai sekitar 20.000 personel dari berbagai negara.
Selain itu, Indonesia ditunjuk sebagai Deputy Commander Operasi ISF, sebuah pengakuan atas profesionalisme prajurit TNI dalam berbagai misi penjaga perdamaian dunia.
Posisi ini diharapkan mempermudah koordinasi, sekaligus menegaskan kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas regional dan melindungi masyarakat sipil.
"Penunjukan Deputy Commander operasi adalah bentuk penghormatan terhadap track record Indonesia. Hal ini juga memfasilitasi tujuan kita mengirim pasukan untuk misi perdamaian," tambah Sugiono.
Dengan pengiriman pasukan ini, pemerintah menegaskan komitmen Indonesia terhadap mandat internasional untuk menjaga perdamaian, melindungi warga sipil, dan memperkuat reputasi prajurit Indonesia di kancah global.*
(k/dh)