JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan ultimatum kepada Iran terkait negosiasi nuklir yang telah buntu bertahun-tahun. Trump menegaskan, Teheran memiliki waktu sekitar 10–15 hari untuk mencapai kesepakatan yang berarti, jika tidak, "hal buruk akan terjadi."
"Terbukti selama bertahun-tahun, tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran, dan kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," ujar Trump, dikutip Associated Press, Kamis (19/2).
Negosiasi nuklir tidak langsung yang digelar beberapa minggu terakhir menunjukkan sedikit kemajuan, namun ketegangan tetap tinggi.
Baca Juga: Momen Akrab Prabowo-Trump: Candaan Hingga Pujian di KTT Perdamaian Amerika Serikat telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah, termasuk mengirim kapal induk kedua, untuk menekan Iran.
Menanggapi tekanan ini, Iran melalui Duta Besar untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menegaskan bahwa negaranya tidak menginginkan konflik, namun siap merespons agresi AS secara tegas dan proporsional.
"Semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan tersebut akan menjadi sasaran yang sah dalam konteks respons defensif Iran," katanya.
Seorang pejabat AS menyebut bahwa Iran telah setuju menyusun proposal tertulis sebagai tanggapan terhadap kekhawatiran AS.
Iran menekankan, fokus pembicaraan adalah program nuklirnya, yang mereka klaim bersifat damai, meskipun AS dan sekutu Barat menduga ada niat untuk mengembangkan senjata nuklir di masa depan.
Situasi ini menandai ketegangan geopolitik yang meningkat, sementara dunia menunggu apakah Iran akan memenuhi ultimatum AS atau risiko konflik lebih luas akan muncul.*
(oz/dh)