JERUSALEM — Polisi Israel menangkap Syekh Mohammed al-Abbasi dari halaman Masjid Al-Aqsa pada Senin (16/2) malam waktu setempat.
Penangkapan terjadi tanpa penjelasan resmi dari pihak berwenang Israel, menurut laporan kantor berita Palestina WAFA yang dikutip Anadolu Agency.
Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya tindakan keras Israel terhadap Masjid Al-Aqsa, termasuk pembatasan terhadap imam, pengkhotbah, dan jamaah, serta serbuan kelompok pemukim yang berada di bawah perlindungan polisi.
Baca Juga: Doakan Palestina, MUI Ajak Seluruh Imam Masjid Serukan Qunut Nazilah Selama Ramadan 1447 H Selain itu, otoritas Israel juga menghalangi badan Wakaf Islam, lembaga yang dikelola Yordania untuk mengelola situs suci, dalam melakukan persiapan rutin menjelang Ramadan, seperti pemasangan peneduh dan klinik medis sementara.
Sumber dari pihak Wakaf menyebutkan bahwa 33 karyawannya dilarang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada pekan ini.
Pada Selasa (17/2), Hamas mengecam penangkapan Syekh al-Abbasi dan perintah larangan masuk masjid yang dijatuhkan kepadanya.
Organisasi tersebut menilai langkah Israel sebagai intervensi terang-terangan terhadap urusan Masjid Al-Aqsa dan serangan yang tidak dapat diterima terhadap para imamnya.
"Pelanggaran yang meningkat oleh pemerintah pendudukan terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa, pencegahan persiapan logistik untuk bulan Ramadan, dan intensifikasi penggerebekan oleh kelompok pemukim adalah intervensi berbahaya untuk menguasai dan men-Yahudisasi masjid," tulis Hamas dalam pernyataan resminya.
Hamas menyerukan kepada rakyat Palestina di Yerusalem, Tepi Barat, dan wilayah pendudukan untuk berjaga di Al-Aqsa guna melindungi identitasnya.
Mereka juga meminta Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil langkah nyata menekan Israel agar menghentikan pelanggaran terhadap situs suci tersebut.
Ketegangan di Yerusalem Timur terus meningkat menjelang bulan suci Ramadan, menyusul pengetatan keamanan dan serangkaian penangkapan terhadap tokoh agama serta aktivis Palestina.*