GAZA – Serangan udara dan operasi militer Israel kembali menewaskan puluhan warga Palestina di Gaza, meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah diberlakukan sejak Oktober 2025.
Menurut laporan Al Jazeera, Kamis (5/2/2026), sedikitnya 23 orang tewas dalam beberapa serangan yang menargetkan rumah dan tenda pengungsi. Sebagian korban adalah anak-anak.
Di lingkungan Tuffah dan Zeitoun, Kota Gaza, 14 orang tewas akibat serangan udara Israel.
Baca Juga: Prabowo Temui Eks Menlu dan Wamenlu Bahas Keikutsertaan Indonesia di Board of Peace Selama Tiga Jam, Ini Hasilnya Sementara itu, empat orang tewas di tenda pengungsi Qizan Abu Rashwan, selatan Khan Younis, dan dua lainnya tewas di kamp tenda pesisir al-Mawasi.
Salah satu korban di al-Mawasi adalah petugas pertolongan pertama Hussein Hasan Hussein al-Sumairy.
Wartawan Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, mengatakan serangan ini terjadi "tanpa peringatan sebelumnya" dan membuat warga Gaza merasa tidak aman meski gencatan senjata seharusnya berlaku.
Aktivitas militer Israel meningkat dalam beberapa jam terakhir, dengan drone melintas di atas kota, menandai potensi serangan berikutnya.
Militer Israel menyebut serangan tersebut sebagai respons terhadap penembakan yang melukai seorang perwira cadangan di dekat "garis kuning" di wilayah Gaza timur.
Perwira itu dievakuasi ke rumah sakit, sementara militer Israel memindahkan lokasi garis tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran bagi penduduk setempat.
Sejak gencatan senjata berlaku, lebih dari 520 warga Palestina tewas akibat serangan Israel. Total korban tewas sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023 mencapai 71.803 orang.
Kelompok hak asasi manusia dan penyelidikan PBB menyebut tindakan militer Israel di Gaza sebagai genosida, sementara kasus serupa sedang ditangani di Mahkamah Internasional di Den Haag.*
(dh)