UEA – Uni Emirat Arab (UEA) dikabarkan tengah menyiapkan langkah besar untuk mengambil alih pengelolaan seluruh urusan sipil di Jalur Gaza, dalam fase kedua perjanjian gencatan senjata perang.
Rencana ini disebut mendapat dukungan penuh dari Israel dan melibatkan koordinasi erat dengan Amerika Serikat, menurut laporan Channel 12 Israel yang dikutip Middle East Monitor, Selasa (3/2).
Laporan tersebut menyebutkan, dalam beberapa pekan terakhir, UEA menggelar serangkaian pembicaraan dengan pemerintah AS dan Israel terkait kemungkinan Abu Dhabi memegang kendali penuh atas administrasi sipil Gaza.
Baca Juga: Waketum MUI: Presiden Prabowo Siap Keluar dari Board of Peace Jika Tidak Sejalan "Beberapa miliar dolar akan ditransfer segera, dengan investasi lanjutan akan menyusul pada tahap berikutnya," tulis laporan itu.
Rencana ini mencakup pengelolaan pasar dan aktivitas perdagangan di Gaza.
Untuk mendukung operasional, pasukan keamanan bersenjata UEA akan dikerahkan untuk menjaga pusat logistik yang direncanakan dibangun di berbagai titik wilayah.
Selain itu, perusahaan keamanan swasta asal AS juga akan ikut terlibat dalam pengamanan dan distribusi.
Laporan Channel 12 menambahkan bahwa UEA berencana membeli seluruh barang yang masuk ke Gaza dari Israel, serta menggunakan kontraktor Israel dalam prosesnya.
Pusat-pusat distribusi yang ada akan ditingkatkan menjadi hub logistik, sebagai titik pengiriman barang ke sektor swasta di dalam Jalur Gaza.
Meski draf kesepakatan awal telah saling dipertukarkan antara UEA dan Israel, rinciannya masih menunggu persetujuan final.
Dukungan Israel terhadap inisiatif ini dinilai menjadi kunci kelancaran rencana UEA, yang disebut berambisi mengawasi seluruh urusan sipil sekaligus menyiapkan investasi besar untuk wilayah Gaza.
Perkembangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik internasional untuk menstabilkan Jalur Gaza setelah gencatan senjata, dan berpotensi menimbulkan dinamika baru dalam geopolitik kawasan Timur Tengah.*