TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tewasnya ribuan orang dalam protes anti-pemerintah yang berlangsung selama beberapa minggu terakhir di Iran.
"Keterlibatan aktor yang terkait dengan Israel dan AS menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan beberapa ribu orang selama protes yang mengguncang Iran lebih dari dua minggu," kata Khamenei, seperti dilaporkan Al-Jazeera, Minggu (18/1/2026).
Khamenei secara khusus menuding Presiden AS Donald Trump sebagai "kriminal" yang terlibat langsung dalam pemberontakan terbaru, berbeda dengan kerusuhan sebelumnya.
Baca Juga: Trump Tegas Soal Greenland, Negara yang Menolak Bisa Terkena Sanksi Ia menegaskan, meskipun Iran tidak ingin meluas ke perang internasional, pihak yang dianggap bertanggung jawab akan menghadapi konsekuensi.
Para pejabat Iran mengklaim, kerusuhan awalnya dipicu oleh kenaikan harga dan kesulitan ekonomi sejak 28 Desember 2025, namun kemudian membesar karena keterlibatan pihak asing yang "membiayai, melatih, dan mempersenjatai pengunjuk rasa."
Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis jumlah korban jiwa resmi.
Namun, organisasi hak asasi manusia berbasis di AS, HRANA, melaporkan sedikitnya 3.000 orang tewas, sementara pejabat Iran menyebut ratusan korban termasuk anggota pasukan keamanan.
Selain itu, sekitar 3.000 orang telah ditangkap terkait protes tersebut.
Sebagai bagian dari upaya memulihkan situasi keamanan, pemerintah Iran telah memulihkan layanan SMS setelah sebelumnya mematikan akses internet selama delapan hari, menurut kantor berita semi-resmi Fars.
Pernyataan Khamenei menegaskan narasi resmi Iran bahwa pihak asing, khususnya AS dan Israel, berada di balik kerusuhan yang meluas di sejumlah kota, termasuk Teheran, Mashhad, dan Isfahan.*
(d/dh)