TEHERAN – Nilai mata uang Iran, rial, terus merosot di tengah gelombang demonstrasi yang telah berlangsung lebih dari dua pekan.
Pada Rabu (14/1/2026), rial kini menembus level 1,4 juta per dolar AS di pasar terbuka, mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah.
Jika dikonversikan ke rupiah Indonesia, 1 rial hanya setara Rp 0,40, sehingga 100.000 rial baru bernilai sekitar Rp 40.000.
Baca Juga: Menkes Ungkap Angka Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi, Jadi Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045 Depresiasi ini mencerminkan tekanan ekonomi yang sangat berat bagi warga Iran.
Inflasi Kronis dan Harga Barang MelonjakBadan Pusat Statistik Iran mencatat tingkat inflasi tahunan mencapai 43 persen selama delapan tahun terakhir.
Akibatnya, daya beli masyarakat merosot hingga 94 persen, harga barang dan jasa meningkat lebih dari 17 kali lipat.
Tekanan inflasi juga tercermin pada harga emas.
Sejak 2018 hingga 2026, harga emas 18 karat melonjak dari 1.387.000 rial (Rp 556.773) menjadi 160.550.000 rial (Rp 64 juta), atau naik lebih dari 115 kali lipat.
Sanksi Internasional Memperparah KrisisRuntuhnya nilai rial tidak terlepas dari kombinasi sanksi internasional, inflasi kronis, dan isolasi diplomatik.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memberlakukan sanksi sejak September 2025, mencakup embargo senjata, pembatasan program rudal balistik, pembekuan aset tertentu, dan larangan perjalanan.
Uni Eropa juga ikut menjatuhkan sanksi tambahan terkait hak asasi manusia dan suplai drone ke Rusia.
Rial Melemah, Demonstrasi MeluasDepresiasi mata uang memicu demonstrasi besar-besaran di sejumlah kota. Warga Iran mengeluhkan kenaikan biaya hidup yang drastis.