TEHERAN – Puluhan ribu warga Iran memadati jalanan ibu kota Teheran pada Senin (12/1/2026) dalam aksi pro-pemerintah, sebagai respons atas unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang negara itu beberapa hari terakhir.
Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi hadir langsung di tengah kerumunan untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap pemerintahan.
Aksi yang digelar di Alun-Alun Enqelab ini dinamai "Pemberontakan Iran Melawan Terorisme Amerika-Zionis".
Baca Juga: Huta Padang FC Hancurkan Satahi FC 4-0 di Turnamen Ama-Ama Cup Padangsidimpuan Dalam pidatonya, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengecam intervensi negara Barat dan menegaskan bahwa Iran sedang berperang di empat front sekaligus: ekonomi, psikologis, militer, dan melawan terorisme.
"Perang ekonomi, perang psikologis, perang militer melawan AS dan Israel, dan hari ini, perang melawan terorisme," ujar Ghalibaf di hadapan ribuan pendukung pemerintah.
Dalam aksi ini, para peserta menyerukan slogan anti-Barat, seperti "Matilah Israel, Matilah Amerika", yang ditayangkan di berbagai media pemerintah.
Pezeshkian menilai demonstrasi ini sebagai wujud "kewaspadaan dan tanggung jawab dalam membela cita-cita agama dan nasional".
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa "situasi sepenuhnya terkendali" kepada para diplomat asing di Teheran.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak hadir secara langsung, namun memberikan pesan yang disiarkan di televisi pemerintah, menyebut aksi ini telah menggagalkan rencana musuh asing melalui "tentara bayaran domestik".
Laporan kantor berita Fars menyebut sekitar 3 juta orang hadir dalam aksi pro-pemerintah ini.
Demonstrasi skala besar ini dimaksudkan untuk menampilkan citra normalitas di tengah gelombang protes terbesar di Iran sejak 2009.*
(d/dh)