WASHINGTON DC – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, ditangkap oleh pasukan elit Delta Force Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1/2026) pagi waktu setempat, dalam operasi militer yang disebut Presiden AS Donald Trump sebagai bagian dari strategi kontra-terorisme dan keamanan nasional.
Operasi yang dijuluki "Absolute Resolve" ini merupakan hasil perencanaan dan latihan selama berbulan-bulan, menurut Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine.
Lebih dari 150 pesawat digunakan untuk mengerahkan tim Delta Force ke ibu kota Venezuela, Caracas, di tengah pemadaman listrik yang dilakukan pasukan AS untuk memudahkan infiltrasi.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Rupiah Awal 2026 Bertahan di Rp 16.670 Sumber intelijen CIA di dalam pemerintahan Venezuela dilaporkan membantu AS melacak lokasi Maduro menjelang penangkapan.
Saat operasi berlangsung, Maduro sempat mencoba masuk ke ruang aman berbaja di kompleks kediamannya, namun gagal menutup pintu sebelum pasukan AS memasuki lokasi.
Trump memastikan tidak ada pasukan AS yang tewas dan hanya terdapat sedikit korban luka.
Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke kapal dan diterbangkan ke Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart, New York, sebelum dipindahkan ke Pusat Penahanan Metropolitan di Brooklyn.
Delta Force dikenal sebagai unit operasi khusus Angkatan Darat AS yang menangani misi berisiko tinggi, termasuk penangkapan target bernilai tinggi, penyelamatan sandera, dan operasi kontra-terorisme.
Unit ini pernah terlibat dalam penangkapan Saddam Hussein (2003), misi melawan Abu Bakr al-Baghdadi (2019), dan operasi di Afghanistan, Suriah, serta Amerika Latin, termasuk operasi untuk menangkap gembong narkoba Pablo Escobar.
Kerahasiaan tinggi menjadi ciri khas Delta Force, dan sebagian besar misinya jarang diumumkan publik.
Penangkapan Maduro menegaskan kemampuan AS melakukan operasi militer lintas negara dengan presisi tinggi dan dukungan intelijen yang luas.*
(d/dh)