JAKARTA– Gestur simbolis Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, di Roma tengah menjadi sorotan dunia internasional.
Dalam peringatan 60 tahun Dokumen Nostra Aetate, Menag RI memberikan penghormatan kepada Paus Leo XIV dengan mencium kepala dan tangan, sekaligus menyalakan Lilin Perdamaian.
Peristiwa ini berlangsung di hadapan tokoh lintas agama dunia di bawah komunitas Sant'Egidio.
Baca Juga: 63 Madrasah di Aceh Belum Siap Gelar Belajar Mengajar 5 Januari Dar Edi Yoga, aktivis Gereja Katolik dan pemerhati dialog lintas iman, menilai tindakan Menag menunjukkan bahasa iman yang jujur dan tulus.
Menurut Dar Edi, penghormatan kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik bukan sekadar protokol diplomatik, melainkan pengakuan universal bahwa pemimpin agama adalah pelayan kemanusiaan yang harus saling menghargai.
"Tindakan ini menunjukkan wajah agama yang lembut dan rendah hati, sekaligus simbol perlawanan terhadap prasangka dan kekerasan," ujarnya.
Penyalaan Lilin Perdamaian oleh Menag RI di Vatikan dimaknai sebagai simbol harapan bahwa perdamaian global tetap mungkin dicapai melalui kerendahan hati dan dialog yang tulus.
Pesan moral yang dibawa Indonesia, kata Dar Edi, menegaskan bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan sumber kekuatan bagi kerja nyata bagi perdamaian dunia.
"Iman tidak diukur dari kerasnya klaim kebenaran, tetapi dari kemampuan mencintai sesama," kata Dar Edi, menekankan makna mendalam di balik momen simbolis tersebut.*
(dh)