JAKARTA -Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran pada Jumat dini hari (13/6).
Menanggapi eskalasi ini, sejumlah negara di sekitar wilayah konflik — termasuk Iran, Yordania, Irak, dan Suriah — menutup wilayah udaranya untuk alasan keamanan.
Penutupan ini terjadi menyusul laporan bahwa Israel telah mengirimkan ratusan jet tempur untuk menyerang sejumlah wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran.
Langkah ofensif ini disebut sebagai respons atas tindakan Iran yang sebelumnya mengerahkan ratusan drone ke wilayah sekitar Israel.
Pemerintah Israel telah mengonfirmasi bahwa Iran telah memulai pembalasan, memicu ketegangan yang lebih luas dan ancaman meluasnya konflik ke kawasan sekitarnya.
Salah satu tanggapan datang dari Yordania, yang dengan tegas menyatakan tidak akan mentolerir pelanggaran terhadap kedaulatan udaranya.
"Yordania tidak pernah dan tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun di wilayah udaranya. Kerajaan ini tidak akan menjadi medan pertempuran untuk konflik apa pun," tegas Juru Bicara Pemerintah Yordania, Mohammad Momani, kepada AFP.
Senada dengan itu, Irak juga menangguhkan seluruh aktivitas lalu lintas udara. Kementerian Transportasi Irak menyampaikan bahwa semua bandara di negara tersebut dihentikan operasionalnya hingga situasi dinyatakan aman.
Penutupan wilayah udara turut berdampak pada dunia penerbangan komersial. Maskapai internasional seperti Emirates Airlines mengumumkan pembatalan penerbangan dari dan menuju sejumlah negara seperti Irak, Yordania, Lebanon, dan Iran.
Langkah-langkah ini mencerminkan keprihatinan regional terhadap potensi perluasan konflik militer di kawasan, yang tidak hanya berdampak pada keamanan tetapi juga pada lalu lintas udara sipil dan ekonomi global.*
(kp/j006)