Ribuan Orang Unjuk Rasa Nasional Menentang Kebijakan Trump, Soroti Kenaikan Tarif dan Ancaman Demokrasi

Adelia Syafitri - Minggu, 06 April 2025 08:33 WIB
Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan di berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu (5/4/2025).

WASHINGTON -Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan di berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu (5/4/2025), dalam unjuk rasa besar-besaran yang menentang kebijakan terbaru Presiden Donald Trump, termasuk kenaikan bea masuk universal sebesar 10 persen terhadap semua barang impor.

Demonstrasi yang dipusatkan di National Mall, hanya beberapa blok dari Gedung Putih, menarik lebih dari 5.000 orang sejak siang waktu setempat.

Aksi ini juga berlangsung secara serentak di lebih dari 1.000 kota dan seluruh distrik kongres di AS, serta beberapa kota besar di luar negeri seperti Toronto, London, Paris, Berlin, dan Lisbon.

Di tengah cuaca mendung dan hujan ringan, massa aksi membawa berbagai plakat dengan pesan keras seperti "Bukan Presiden Saya," "Fasis Telah Tiba," "Hentikan Kejahatan," hingga "Keluar dari Jaminan Sosial Kami."

Sebuah spanduk besar bertuliskan "Angkat Tangan" dibentangkan di atas panggung utama protes, sebagai simbol perlawanan damai terhadap kebijakan yang dianggap merugikan rakyat dan demokrasi.

"Sangat mengkhawatirkan melihat apa yang terjadi di negara kita," ujar Jane Ellen Somes (66), seorang pekerja real estate yang ikut turun ke jalan.

"Semua sistem pengawasan dan keseimbangan telah dilanggar, mulai dari isu lingkungan hingga hak-hak pribadi."

Protes ini dipimpin oleh koalisi kelompok progresif termasuk MoveOn, Women's March, dan Indivisible.

Mereka mengkritik keras tindakan Trump yang dianggap mempersempit peran pemerintah, memaksakan nilai-nilai konservatif, dan merusak hubungan dagang internasional—kebijakan yang telah menyebabkan gejolak di pasar saham dan ekonomi domestik.

"Protes ini adalah pesan yang jelas untuk Trump, Musk, dan Partai Republik bahwa rakyat tidak tinggal diam," ujar Ezra Levin, salah satu pendiri Indivisible.

"Kami tidak akan membiarkan mereka mengendalikan demokrasi, sekolah, komunitas, dan masa depan kita."


Editor
: Adelia Syafitri

Tag:

Berita Terkait