JALUR GAZA – UNICEF mengungkapkan bahwa setidaknya 322 anak tewas dan 609 anak terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza selama 10 hari terakhir.
Angka tersebut termasuk anak-anak yang tewas atau terluka akibat serangan yang menargetkan departemen bedah di RS Al Nasser, selatan Gaza, pada 23 Maret lalu.
Menurut UNICEF, sebagian besar korban adalah anak-anak yang tengah mengungsi dan berlindung di tenda-tenda atau rumah yang rusak akibat serangan.
Serangan Israel yang dimulai pada 18 Maret 2025, mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung hampir dua bulan.
Selain serangan udara, Israel juga melancarkan serangan darat.
Eksekutif Direktur UNICEF, Catherine Russell, menyatakan bahwa gencatan senjata sebelumnya memberikan harapan yang sangat dibutuhkan bagi anak-anak di Gaza.
Namun, ia menegaskan bahwa anak-anak kini kembali terjebak dalam siklus kekerasan yang mematikan.
"Anak-anak kembali terjebak dalam siklus kekerasan dan perampasan yang mematikan," kata Russell. "Semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum humaniter internasional untuk melindungi anak-anak."
UNICEF juga melaporkan bahwa selama 18 bulan terakhir dari total serangan Israel, lebih dari 15 ribu anak telah tewas, lebih dari 34 ribu terluka, dan hampir 1 juta anak terpaksa mengungsi berulang kali.
Sebagai respons, UNICEF mendesak diakhirinya serangan serta mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, yang telah dilarang Israel sejak 2 Maret 2025.
Organisasi tersebut juga menyerukan agar anak-anak yang terluka atau sakit segera dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis yang diperlukan.
Russell menambahkan bahwa kebutuhan mendesak seperti makanan, air bersih, tempat berteduh, dan perawatan medis semakin langka.