JAKARTA – Wakil Koordinator Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, disebut dalam kondisi cukup baik setelah menjadi korban penyiraman air keras pada Maret 2026.
Andrie masih menjalani perawatan dan beradaptasi dengan luka yang dialaminya setelah disiram air keras oleh sejumlah prajurit Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada 12 Maret 2026.
Kondisi Andrie diketahui melalui surat yang ditulisnya dan dibacakan Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Jane Rosalina, dalam acara Dies Natalis ke-5 IM57+ Institute di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Jumat (2/10/2026) malam.
Baca Juga: Oknum Prajurit TNI Diduga Aniaya Lansia hingga Meninggal di Maluku Tengah, Pomdam XV/Pattimura Turun Tangan Dalam acara tersebut, Andrie menerima penghargaan atas dedikasi dan kontribusinya terhadap gerakan antikorupsi, demokrasi, serta nilai-nilai hak asasi manusia (HAM).
"Kondisi saya saat ini merasa cukup baik, setidaknya saya berupaya beradaptasi dengan luka yang saya alami setelah mendapatkan serangan penyiraman air keras pada Maret lalu," ujar Jane membacakan surat Andrie.
Jane mengatakan Andrie hingga kini masih menjalani perawatan rutin bersama tim dokter yang menanganinya.
"Beberapa waktu ke depan, saya juga akan menjalani tindakan operasi kembali pada beberapa bagian luka yang mengalami kontraktur yang mengganggu ruang gerak saya," kata Jane.
"Saya mohon diberikan doa agar diberikan kekuatan serta kelancaran dalam prosesnya," lanjutnya membacakan surat Andrie.
Penyiraman air keras terhadap Andrie terjadi pada 12 Maret 2026 malam.
Saat itu, Andrie baru selesai mengisi siniar di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
Siniar tersebut mengangkat tema "Remiliterisasi & Judicial Review UU TNI".
Dalam perkara tersebut, empat prajurit TNI menjadi terdakwa. Mereka adalah Sersan Dua Edi Sudarko, Letnan Satu Budhi Hariyanto Widhi, Kapten Nandala Dwi Prasetyo, dan Letnan Satu Sami Lakka.