SANGIHE — Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Kabupaten Kepulauan Sangihe mendesak pemerintah mencopot Kepala Kantor Imigrasi Tahuna menyusul dugaan kaburnya dua tahanan imigran asal Filipina dari pengawasan aparat.
Ketua LMND Sangihe, Gian Alto, menilai peristiwa tersebut bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan indikasi lemahnya pengawasan di wilayah perbatasan yang dinilai strategis bagi keamanan negara.
"Ini menjadi pertanyaan besar bagi publik. Sangihe adalah kawasan perbatasan yang sangat sensitif, terutama di sektor laut. Kalau pengawasan terhadap keluar masuk warga asing lemah, maka dampaknya bisa ke mana-mana," kata Gian saat dihubungi, Selasa, 19 Mei 2026.
Baca Juga: 5 WNI Diduga Ditangkap di Laut Israel, Pemerintah Bergerak Lewat Jalur Diplomasi Ia juga menyinggung dugaan aktivitas warga negara asing di sektor pertambangan ilegal yang sebelumnya terjadi di wilayah tersebut.
Menurutnya, hingga kini belum ada kejelasan penanganan dari pihak Imigrasi Tahuna.
Gian menilai lemahnya pengawasan terhadap warga asing tanpa identitas yang jelas berpotensi menimbulkan risiko keamanan di wilayah perbatasan.
Sorotan serupa disampaikan Departemen Kajian dan Bacaan LMND Sangihe, Arif Rafel Pulumbara.
Ia menilai insiden tersebut telah menurunkan kepercayaan publik terhadap kinerja institusi imigrasi.
"Cara kerja seperti ini akan memperkuat pandangan masyarakat bahwa hukum belum benar-benar menjadi panglima di negeri ini," ujar Arif.
LMND menyatakan akan berkoordinasi dengan struktur organisasi di tingkat wilayah hingga nasional untuk membawa persoalan ini ke Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Mereka juga berencana menggelar aksi sebagai bentuk desakan evaluasi terhadap pimpinan Imigrasi Tahuna.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kantor Imigrasi Tahuna belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kaburnya dua tahanan tersebut.*