PANGKALPINANG – Insiden tertundanya keberangkatan puluhan santriwati asal Bangka dalam penerbangan Super Air Jet IU 3823 berbuntut panjang.
Setelah tidak ada respons yang memadai dari pihak maskapai, para orang tua santri akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pada Kamis (2/4/2026) sore.
Laporan tersebut kini diteruskan ke bagian Kriminal Khusus (Krimsus) untuk penyelidikan lebih lanjut.
Baca Juga: BNI Harus Kembalikan Rp 28 Miliar Dana Jemaat Gereja Katolik yang Digelapkan Pegawai: Ini Regulasinya Ketua rombongan santri, M. Farhan Adduha, membenarkan langkah hukum tersebut. Menurut Farhan, para orang tua santri merasa tidak mendapatkan penjelasan yang jelas terkait insiden ini dari pihak maskapai.
"Kami terpaksa melaporkan hal ini ke Polda Babel karena maskapai terkesan tidak peduli dan tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah," katanya.
Menurut Farhan, bukti yang dibawa dalam laporan tersebut termasuk boarding pass dan boarding bagasi para santriwati yang menjadi korban, sebagai dasar dari aduan mereka.
Kerugian Membengkak Hingga Rp 100 Juta
Sebelumnya, kerugian akibat insiden ini diperkirakan mencapai Rp 65 juta, namun kini angka tersebut membengkak hingga sekitar Rp 100 juta.
Biaya tambahan tersebut mencakup pembelian tiket baru senilai Rp 70 juta untuk keberangkatan keesokan harinya, serta biaya transportasi orang tua dan konsumsi selama mereka tertahan di bandara.
Kerugian ini menjadi beban berat bagi sebagian besar orang tua yang terpaksa merogoh kocek lebih dalam, mengingat kondisi ekonomi yang sulit.
Kekecewaan mereka bukan hanya karena kerugian materiil, tetapi juga dampak psikologis terhadap santriwati yang harus menunggu tanpa kepastian, padahal seluruh prosedur penerbangan telah dipenuhi dengan benar.
Farhan juga menyampaikan bahwa seluruh prosedur penerbangan sudah dijalankan sesuai ketentuan: check-in dilakukan dengan sah, boarding pass tercetak, nomor kursi telah disiapkan, dan bagasi sudah masuk pesawat. Namun, 29 santriwati yang terdaftar justru dinyatakan "late" saat sudah berada di antrean boarding resmi.