JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, menyatakan bahwa kreativitas dalam industri kreatif harus dihargai dengan layak dan tidak dipandang sebelah mata.
Hal tersebut disampaikan sebagai respons atas penanganan kasus dugaan korupsi yang melibatkan videografer Amsal Christy Sitepu, yang diduga menggelembungkan anggaran dalam proyek pengelolaan dan pembuatan jaringan komunikasi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Cak Imin menegaskan bahwa kreativitas, yang meliputi ide, gagasan, proses penyulihan suara hingga editing, adalah proses yang memerlukan keahlian dan harus dihargai.
Baca Juga: Sumut 'Zero Pengungsi'! Korban Bencana Kini Sudah Menempati Hunian Layak "Proses kreatif adalah nyawa industri kreatif. Ia seharusnya dihargai sebagai keahlian, bukan justru dinihilkan, apalagi dikriminalisasi," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Menurut Cak Imin, jika ide dan kreativitas dihargai dengan Rp0 atau dianggap gratis, itu bukan hanya sebuah kesalahan, tetapi dapat berbahaya bagi kelangsungan industri kreatif itu sendiri.
"Ketika kreativitas dinilai Rp0, itu bukan sekadar keliru, itu berbahaya," kata Cak Imin, mengingatkan pentingnya memberikan pengakuan terhadap proses panjang yang dijalani para pekerja kreatif.
Lebih lanjut, Cak Imin menyatakan bahwa dalam dunia industri kreatif, nilai suatu karya tidak dapat diukur dengan pendekatan konvensional semata.
Proses kreatif dimulai dari riset, eksplorasi ide, produksi, hingga eksekusi yang membutuhkan waktu dan biaya yang tidak bisa dinilai secara sederhana.
Cak Imin juga mengingatkan bahwa jika kreativitas dianggap tidak bernilai, maka hal tersebut bisa berdampak pada dunia pendidikan, khususnya bagi generasi muda yang ingin belajar dan berkarya di bidang ini.
"Jika kreativitas dianggap tidak bernilai, kampus bisa kehilangan semangat mengajarkan inovasi. Lalu, siapa yang akan berkarya? Siapa yang akan melanjutkan ekosistem ini?" ujarnya.
Dia juga menekankan bahwa sektor ekonomi kreatif kini menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat Indonesia, mulai dari kreator konten, videografer, editor, hingga desainer.
"Jangan sampai pendekatan yang keliru justru membuat para kreator takut berkarya. Kita butuh keberanian berinovasi, bukan ketakutan akibat salah tafsir," katanya.