TAPANULI SELATAN – Aktivitas pengambilan sampel air Sungai Batang Toru oleh PT Agincourt Resources menuai sorotan warga.
Sejumlah masyarakat mempertanyakan langkah perusahaan pengelola Tambang Emas Martabe itu di tengah status penghentian sementara operasional di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru.
Baca Juga: DPW Syarikat Islam Sumut Dukung Program Gubernur untuk Penguatan Ekonomi Umat Perusahaan menyatakan pengujian kualitas air dilakukan secara rutin dan transparan.
Hasil uji internal, menurut manajemen, menunjukkan air sisa proses tambang memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
Parameter seperti pH, total padatan tersuspensi (TSS), sianida bebas, dan kandungan logam terlarut disebut berada dalam ambang batas aman.
Namun, sebagian warga di sekitar aliran Sungai Batang Toru mengaku masih waswas terhadap dampak aktivitas pertambangan.
Mereka menilai bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi beberapa bulan lalu telah memperparah kondisi lingkungan.
"Kami kehilangan tempat tinggal. Bantuan hanya sebatas alat pembersihan dan bahan pangan beberapa hari. Soal tempat tinggal, tidak ada kejelasan," ujar seorang warga yang terdampak banjir.Warga lain mengaku khawatir terhadap potensi dampak limbah tambang terhadap kesehatan.
Mereka menyebut dalam dua tahun terakhir muncul keluhan penyakit kulit seperti gatal-gatal.
"Kalau untuk minum, kami terpaksa beli air kemasan," kata seorang warga yang tinggal di sekitar area tambang.
Kekhawatiran masyarakat juga diperkuat oleh investigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang sebelumnya memperingatkan potensi risiko bencana di kawasan DAS Batang Toru.