JAKARTA – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap 27 grup dan saluran media sosial yang menjadi sarana penyebaran ideologi kekerasan ekstrem, termasuk Neo-Nazi dan White Supremacy, kepada anak-anak.
Puluhan grup ini tersebar di berbagai platform mulai dari WhatsApp, Telegram, hingga Facebook.
"Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh, organisasi, atau institusi tertentu, tetapi tumbuh secara sporadis seiring perkembangan media digital," kata Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana, dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Wagub Hellyana Sebut Dugaan Ijazah Palsu Bermotif Politik, Ungkap Keretakan dengan Gubernur Babel Beberapa grup yang terdeteksi antara lain TCC Community, True Crime Community, TCCland Under Akmal, Fuck TCC, TCC Universe V2, TCC City Nueva Revolucion, FTCI Film True Crime Indonesia, Indonesia Headhunter, Meinchat, Legion Devision, hingga Anarko Libertarian Maoist.
Densus mencatat sebanyak 70 anak telah terpapar ideologi ekstrem ini di 19 provinsi. Sebaran terbanyak terjadi di Pulau Jawa, terutama DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Faktor utama yang mendorong anak-anak bergabung ke komunitas ekstrem adalah perundungan (bullying), kondisi keluarga tidak harmonis, dan kurangnya perhatian lingkungan.
"Anak-anak ini tidak menganut paham ekstrem secara total. Mereka hanya menjadikan komunitas ini sebagai inspirasi sekaligus rumah kedua," ujarnya.
Mayndra menambahkan, fenomena penyebaran ideologi ekstrem meningkat pascapandemi Covid-19, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara.
Ia menyoroti sejumlah kasus kekerasan ekstrem yang dilakukan anak-anak terpapar Neo-Nazi dan White Supremacy sepanjang 2025.
Contohnya, Anderson Solomon (17) di Antioch High School, Trinity Shopley (18) di Indiana yang berencana melakukan penembakan, hingga Robin M. Westman (23) yang melakukan penembakan di gereja Katolik.
Di Rusia, Mario Nauval (15) terinspirasi dari ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 2025.
"Ini memperlihatkan bahwa aksi teror dan kekerasan remaja di berbagai negara saling mempengaruhi melalui ruang digital, dengan proses inspirasi dan glorifikasi yang terjadi dalam komunitas online," jelas Mayndra.