JAKARTA – Ketua Mahkamah Agung (MA) Sunarto menegaskan pentingnya integritas dan iman bagi seorang hakim.
Menurutnya, kecerdasan saja tidak cukup. Seorang hakim yang pintar namun tidak takut diawasi Tuhan dan malaikat berisiko melakukan pelanggaran hukum.
Pernyataan ini disampaikan Sunarto saat menjelaskan pembentukan panitia seleksi (pansel) untuk mencari pengganti hakim konstitusi Anwar Usman yang akan pensiun pada 2026.
Baca Juga: Jangan Lewatkan Wolf Moon 2026! Bulan Purnama dan Fenomena Langit Menakjubkan Awal Tahun "Jabatan (hakim) diberikan pada orang yang enggak tahu apa-apa, berisiko. Tapi juga, jabatan diberikan pada orang yang pintar, smart, tahu apa-apa tapi tidak punya iman, ya itu berisiko juga. Enggak takut sama Tuhan. Iya kan?" ujar Sunarto dalam acara Apresiasi dan Refleksi Mahkamah Agung 2025 di Gedung MA, Jakarta Pusat, Selasa (30/12).
Sunarto menambahkan, hakim yang beriman tidak akan mudah tergoda melakukan pelanggaran karena adanya kesadaran diawasi oleh Tuhan. Sebaliknya, hakim tanpa iman berpotensi mengabaikan tanggung jawabnya.
"Kalau sudah ada waskat, pengawasan oleh malaikat, mereka enggak akan macam-macam. Ada penegak hukum atau tidak, dia enggak akan melanggar, karena itulah iman," jelasnya.
Dalam proses seleksi pengganti Anwar Usman, pansel melibatkan berbagai pihak, termasuk teknokrat, intelektual dari sejumlah kampus, dan akademisi.
Menurut Sunarto, tujuan utamanya adalah memastikan calon hakim memiliki kombinasi ilmu dan iman yang kuat.
Sebelumnya, pada Mei 2025, Sunarto juga menyinggung peran malaikat dalam membimbing hakim.
Ia menegaskan bahwa hakim tetap manusia, namun harus mengedepankan nilai moral dan etika, serta tidak menjadi "setan" dalam menjalankan tugasnya.
"Manusia adalah pertarungan antara malaikat dan setan. Lebih kuat yang mana? Lebih condong ke malaikat atau condong ke setan?" kata Sunarto.
Kata kunci utama dari pernyataan ini menegaskan pentingnya integritas, iman, dan kecerdasan dalam penegakan hukum di Indonesia.*