Narkoba Jadi Raja, Aparat Jadi Penonton: Realita Pahit Desa Percut

BITVonline.com - Jumat, 06 Desember 2024 19:22 WIB

Percut, Deli Serdang – Warga Desa Percut dihebohkan dengan peredaran narkoba jenis sabu yang semakin merajalela di wilayah mereka, khususnya di kawasan Pasar Belakang. Bahkan, sejumlah warga secara sarkastik melontarkan slogan baru, “Mau kaya? Jual sabu!” untuk menggambarkan betapa bebasnya aktivitas jual-beli barang haram tersebut tanpa adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum.

Beberapa ibu rumah tangga di desa tersebut dengan lantang mengungkapkan rasa kecewa mereka terhadap aparat kepolisian yang dinilai tidak serius memberantas peredaran sabu. “Berulang kali gerebek, tapi kok bandar besarnya selalu lolos? Ini nggak masuk akal!” ujar seorang warga dengan penuh emosi.

Menurut mereka, para bandar besar seperti berinisial A, J, dan Y terus beroperasi tanpa tersentuh hukum, meski informasi keberadaan mereka sudah diketahui oleh masyarakat luas. Lebih ironis lagi, warga menduga adanya sandiwara aparat yang sengaja membocorkan rencana penggerebekan sehingga para bandar memiliki waktu untuk melarikan diri.

 

Warga juga mengungkapkan bahwa salah satu bandar besar berinisial A mampu menjual sabu seberat 1 kilogram setiap tiga hari, dengan keuntungan mencapai Rp200 juta per transaksi. “Bayangkan, dalam sebulan dia bisa mengantongi miliaran rupiah hanya dari sabu. Sementara kami di sini hidup susah karena dampaknya,” keluh seorang ibu rumah tangga.

Dampak peredaran sabu ini tidak hanya pada ekonomi, tetapi juga menghancurkan rumah tangga. Banyak suami yang menghabiskan uang untuk membeli sabu, sementara anak dan istri terabaikan. Konflik keluarga menjadi pemandangan sehari-hari di desa tersebut, yang memicu kekhawatiran akan masa depan generasi muda.

 

Sejumlah tokoh masyarakat dan agama di Desa Percut bahkan secara terang-terangan mempertanyakan integritas aparat penegak hukum. “Kalau menangkap teroris saja bisa, masak menangkap bandar sabu tidak mampu? Jangan-jangan aparat kita juga menikmati hasil dari peredaran narkoba ini,” ujar seorang tokoh agama setempat.

Lebih lanjut, mereka juga meminta Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan langsung memerintahkan Kapolri agar memberantas peredaran narkoba, khususnya di wilayah Desa Percut. “Kami sudah capek dibohongi dengan sandiwara gerebek. Kalau terus begini, bagaimana masa depan anak-anak kami?” tegas seorang warga.

 

Selain itu, tokoh agama di desa tersebut juga mempertanyakan bagaimana narkoba bisa masuk ke Indonesia dengan mudah, padahal laut dan udara dijaga ketat oleh aparat. “Tolong dijelaskan, Pak Presiden, bagaimana barang haram ini bisa sampai ke tangan masyarakat? Ini kan tanggung jawab TNI dan Polri yang berada di bawah komando Anda,” serunya dengan penuh harap.

 

Warga Desa Percut meminta aparat untuk tidak lagi berpura-pura dan segera bertindak tegas memberantas peredaran narkoba di wilayah mereka. “Kami hanya ingin hidup tenang tanpa dihantui narkoba. Jangan jadikan aparat sebagai bagian dari masalah, tetapi sebagai solusi untuk memberantasnya,” tutup salah satu warga.

Laporan ini menjadi pengingat bagi semua pihak, bahwa peredaran narkoba bukan hanya masalah kriminal, tetapi ancaman nyata bagi masa depan bangsa. Masyarakat berharap ada tindakan nyata, bukan sekadar retorika, untuk memutus rantai peredaran narkoba di Indonesia.

(***)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Hukum dan Kriminal

Wali Kota Medan: Rumah Anak SIGAP Harus Berjalan Berkelanjutan, Bukan Hanya Launching

Hukum dan Kriminal

BNNK Binjai Gandeng Bank Mandiri, Perkuat Sinergi Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba

Hukum dan Kriminal

Iduladha 2026, Pemprov Sumut Terima Sapi Kurban 1,3 Ton dari Presiden

Hukum dan Kriminal

Prabowo Pilih Jalan Tengah, Ekonomi Indonesia Mengarah ke Kapitalisme Negara?

Hukum dan Kriminal

Usai PT DSI Ditunjuk sebagai Kebijakan Ekspor Tunggal, Harga TBS Sawit Anjlok

Hukum dan Kriminal

Tim Gabungan Berpacu Waktu Selamatkan Penambang Emas yang Terjebak di Gua Laos