JAKARTA – Suasana haru dan tegang menyelimuti proses rekonstruksi kasus penembakan yang dilakukan oleh tersangka Ghatan Saleh. Dalam adegan demi adegan, Ghatan memperagakan kejadian tragis yang merenggut nyawa seorang individu yang tak bersalah. Dengan memakai baju tahanan biru dan tangan terborgol, Ghatan Saleh tampak tenang dan tanpa penyesalan memperagakan momen mematikan itu.
Dalam konferensi persnya, Kombes Nicolas Ary Lilipaly, Kapolres Metro Jakarta Timur, mengungkapkan bahwa rekonstruksi tersebut menggambarkan total 17 adegan yang terjadi dalam insiden penembakan tersebut. Ghatan Saleh dengan dinginnya memperagakan momen ketika senjata digunakan dan tembakan dilepaskan, menampilkan sisi kekejaman yang memilukan.
Penembakan tersebut, menurut Kombes Nicolas Ary Lilipaly, bermula dari konflik verbal yang terjadi di platform pesan singkat WhatsApp antara Ghatan Saleh dan korban, Andika Mowardi. Pertengkaran itu berkembang menjadi perdebatan sengit, dan Ghatan Saleh tak terima dengan ejekan yang diterima dari korban.
“Maka dari itu, terduga pelaku mencari korban di ruko dan konflik mulut pun pecah. Saling caci-maki mengarah pada tragedi penembakan yang tak terelakkan,” ungkap Kombes Nicolas Ary Lilipaly.
Meskipun demikian, rekonstruksi tersebut tidak mampu meredakan kesedihan keluarga korban yang kehilangan anggota keluarga mereka dalam kejadian tragis ini. Ketidakadilan yang dirasakan oleh keluarga korban semakin dalam ketika melihat Ghatan Saleh dengan tenangnya memainkan adegan-adegan kekejaman yang mengakhiri kehidupan yang masih dipenuhi dengan mimpi dan harapan.
Kehadiran polisi dalam mengeksekusi proses rekonstruksi ini menegaskan bahwa keadilan harus dijalankan bagi semua pihak yang terlibat. Namun, tetap saja, kehilangan yang dirasakan oleh keluarga korban tak tergantikan oleh apapun, bahkan bukan oleh proses hukum yang berjalan.
Di tengah gelapnya tragedi ini, kita diingatkan akan pentingnya menyelesaikan konflik dengan cara yang damai dan menghargai kehidupan sesama. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang di masa mendatang.
(k/09)