MEDAN -Kisah kelam yang menimpa keluarga peternak di Desa Saentis, Dusun III, Percut Seituan, terus berlanjut dengan kisah tragis yang hampir merenggut nyawa seorang anak. Setelah sang kepala keluarga tewas dalam serangan brutal yang dilakukan oleh puluhan remaja, kini giliran anaknya yang menjadi target serangan. Sandra, putri dari almarhum Sarengat, nyaris saja menjadi korban pembunuhan saat ia hampir tertembak oleh peluru dari senjata softgun yang disengaja diarahkan ke arahnya. Peristiwa mengerikan ini terjadi pada tanggal 2 Juni 2024 di Jalan Diponegoro, Desa Cinta Rakyat, Percut Seituan, pada siang hari sekitar pukul 11.30 WIB, mengguncangkan masyarakat desa setempat.
Saat itu, Sandra tengah melintas di Jalan Diponegoro menggunakan sepeda motor, sedang pulang mengantar ibunya dari sebuah acara keluarga. “Pas pulang kejadiannya. Aku lagi di jalan, kan. Tiba-tiba dari belakang ada sepeda motor mepet. Dipepet terus aku. Kemudian salah satu pelaku dari atas motor nyabet aku pakai rantai besar yang kemungkinan panjangnya 70 cm. Dipukul ke aku, cuma gak kena. Hanya membentur rem sepeda motor Nmax hitam yang kukendarai,” ujar Sandra dalam keterangan kepada wartawan pada Kamis, 13 Juni 2024.
Serangan tersebut membuat Sandra terjatuh dari sepeda motornya. Saat ia menoleh ke belakang, salah seorang pelaku terlihat mengeluarkan senjata softgun. “Karena aku nampak dia mau ngambil shotgun, aku langsung lari ke pemukiman warga sekalian minta tolong lah gitu. Dari situlah warga langsung keluar dan kejar para pelaku sampai ke arah gang Dame,” tambahnya.
Namun, meskipun berhasil lolos dari ancaman langsung tersebut, Sandra masih belum aman sepenuhnya. Dua pelaku, yang diketahui bernama Anis dan Ari, berusaha menembaknya dengan senjata softgun. “Sempat ditembak ke arahku dan meletus tiga kali. Cuma gak kena memang, karena aku lari belok-belok ke rumah warga,” ungkap Sandra.
Peristiwa ini merupakan teror lanjutan yang dialami keluarga Sandra. Sebelumnya, rumah mereka telah diserang dengan dilempari batu, petasan, hingga panah, yang menyebabkan ayah Sandra, Sarengat, tewas dibacok oleh puluhan pemuda. Sandra sendiri telah menjadi korban pada serangan sebelumnya, di mana bahunya terkena panah dan mengharuskan dirinya menjalani operasi. Salah satu dari pelaku teror, Anis, merupakan salah satu dari puluhan remaja yang terlibat dalam pembunuhan ayahnya.
Anis berhasil ditangkap oleh warga setelah informasi tentang keberadaannya tersiar. Warga segera menghubungi polisi untuk menangkap Anis, yang saat itu berada di rumahnya. “Tanggal 10 Anis ditangkap warga dan polisi. Dapat info katanya Anis di rumah jadi kami kepung sama keluarga lalu menelepon polisi,” ujar Sandra.
Meskipun mengaku sering melihat Anis dan Ari, Sandra mengaku tidak terlalu mengenal keduanya. Sampai saat ini, ia tidak tahu apa motif di balik teror yang dialami keluarganya. “Sama dua orang ini aku sering nampak, tapi gak begitu kenal kali. Pas malam mau jaga gudang sering nampak mereka. Orang itu tetangga kampung sebelah,” pungkasnya.
Kejadian ini menambah daftar panjang tragedi yang dialami keluarga peternak tersebut, dan menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan masyarakat setempat. Polisi sedang melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif di balik serangan tersebut serta menangkap pelaku lain yang masih buron.
(N/014)