JAKARTA — Atasan idealnya membantu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mendukung karyawan.
Namun, perilaku bos yang toxic atau toksik justru dapat menjadi sumber tekanan bagi bawahannya.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut bukan hanya memengaruhi suasana dan produktivitas kerja, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik karyawan.
Baca Juga: Influenza A Meningkat di Sumut, Dinkes: Alat Deteksi Hanya Tersedia di Medan dan Deli Serdang Melansir Physician Leaders, para ahli menyebut perilaku bos toxic dapat memengaruhi produktivitas, moral tim, serta meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Salah satu ciri yang mudah dikenali adalah atasan yang merasa selalu benar dan sulit menerima kritik maupun masukan dari bawahannya.
Bos toxic juga cenderung memiliki empati yang rendah dan lebih mementingkan dirinya sendiri.
Mereka dapat mengambil kredit atas hasil kerja bawahan, sementara keberhasilan tim dianggap sebagai pencapaian pribadi.
Ciri Bos Toxic di Tempat Kerja
Sikap tidak konsisten juga menjadi salah satu tanda atasan yang toxic.
Seorang bos dapat memuji karyawan pada satu hari, tetapi menyalahkannya pada hari berikutnya.
Kondisi ini membuat karyawan kesulitan memahami standar dan ekspektasi kerja.
Penyalahgunaan jabatan merupakan tanda lain yang perlu diperhatikan.