JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah turun 38 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp 18.060 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp 18.022 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Salah satunya meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan ke sejumlah target di Arab Saudi.
Serangan tersebut mendorong Amerika Serikat memerintahkan sejumlah pegawai pemerintah non-darurat beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi. Situasi ini menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko geopolitik dan dampaknya terhadap perekonomian global.
Baca Juga: Sidang Vonis Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Dijadwalkan Berlangsung 5 November 2026 Dalam risetnya, Ibrahim menyebut serangan yang dilaporkan terjadi pada Rabu menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Serangan tersebut juga menyasar infrastruktur sipil dan fasilitas energi di Arab Saudi.
Selain ketegangan di Timur Tengah, perkembangan hubungan Rusia dan Ukraina turut menjadi perhatian pasar. Presiden Rusia Vladimir Putin diketahui bertemu dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina.
Kremlin menyatakan terdapat kesepakatan untuk melanjutkan pembicaraan damai yang dimediasi AS. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan dukungan terhadap upaya perundingan tersebut.
Di Amerika Serikat, pergerakan bursa saham yang menguat memberikan sentimen positif bagi pasar. Penguatan tersebut terutama didorong saham sektor teknologi di tengah tingginya antusiasme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati agenda ekonomi AS, terutama pertemuan bank sentral Federal Reserve (The Fed) pada pekan berikutnya serta rilis indikator inflasi Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE) Price Index. Indikator tersebut menjadi salah satu acuan penting dalam penilaian inflasi oleh bank sentral AS.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada penilaian lembaga pemeringkat Fitch Ratings terhadap prospek ekonomi Indonesia. Fitch memandang pertumbuhan ekonomi jangka menengah Indonesia masih memiliki potensi, tetapi diperkirakan belum mencapai target pemerintah.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026 dan 6 persen pada 2027, sebelum mencapai ambisi pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun-tahun selanjutnya.
Fitch juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia. Pada Maret 2026, lembaga tersebut mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB, tetapi merevisi prospeknya dari stable menjadi negative.
Perubahan prospek tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai risiko ekonomi Indonesia dan kepercayaan investor.