DENPASAR — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN menjalin kerja sama strategis dengan RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah untuk mendorong pengembangan wisata medis (medical tourism) di Bali.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses terhadap layanan kesehatan berkualitas sekaligus memperkuat sektor kesehatan dan pariwisata di Pulau Dewata.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS) di Denpasar, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: Cuaca Bali Hari Ini 17 Oktober: Mayoritas Cerah, Bangli Hujan Ringan Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, kemitraan ini menjadi peluang bagi perseroan untuk memperluas peran perbankan dalam mendukung pengembangan ekosistem bisnis, terutama di sektor kesehatan dan pariwisata.
"Bagi BTN, kemitraan ini merupakan kehormatan sekaligus peluang untuk menghadirkan manfaat nyata bagi kedua institusi, baik bagi nasabah dan pegawai BTN maupun tenaga medis, pegawai RSUP Ngoerah, dan masyarakat Bali," ujar Nixon dalam pernyataan tertulisnya yang diterima wartawan, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Nixon, kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan terus berkembang.
Masyarakat kini tidak hanya mencari pengobatan ketika sakit, tetapi juga semakin memperhatikan pemeriksaan kesehatan rutin, kebugaran, penuaan sehat (healthy ageing), dan perawatan estetika.
Perubahan kebutuhan tersebut membuka peluang bagi Bali untuk mengembangkan wisata medis, yakni perjalanan yang menggabungkan kebutuhan layanan kesehatan dengan kegiatan wisata.
Nixon menilai Bali memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga layanan kesehatan berkualitas.
Berdasarkan data Global Wellness Institute yang dikutip dalam keterangan BTN, nilai ekonomi industri wellness global mencapai US$ 6,8 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$ 9,8 triliun pada 2029.
Sementara itu, industri wellness tourism global tumbuh 13,8 persen sepanjang 2024.
Tren tersebut dinilai dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan layanan kesehatan yang terintegrasi dengan pariwisata.