MEDAN - Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menawarkan sejumlah potensi kerja sama investasi kepada Jepang, mulai dari pengembangan sumber daya manusia (SDM), sektor kelautan dan perikanan, hingga pariwisata. Hasil laut dari Kepulauan Nias, termasuk lobster, menjadi salah satu potensi yang diharapkan dapat dikembangkan bersama.
Tawaran tersebut disampaikan Bobby saat menerima audiensi Konsul Jenderal Jepang untuk Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Furugori Toru, di ruang kerja Gubernur Sumut, Jumat (9/10/2026).
Dalam pertemuan itu, Bobby mengatakan Sumut terus berupaya meningkatkan kualitas SDM agar mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi tenaga kerja asal Sumut untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman.
Baca Juga: Buka Cerita Lama Saat Jabat Wali Kota: Bobby Nasution Apresiasi Kejati Sumut Sanksi Jaksa Peras Kepsek "Kami berharap kerja sama untuk pengembangan SDM bisa terus meningkat seiring dengan kebutuhan dari Negara Jepang, dimana Sumatera Utara terus mengembangkan potensi atau meningkatkan kemampuan pekerja kita. Dan bagaimana langkah ini juga menjadi prioritas bagi Jepang," ungkap Bobby.
Selain SDM, Bobby menawarkan potensi sektor kelautan dan perikanan, terutama hasil laut dari Kepulauan Nias. Menurutnya, produksi perikanan di wilayah tersebut berpeluang memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun luar negeri.
Lobster menjadi salah satu komoditas yang dinilai menjanjikan untuk dikembangkan. Bobby berharap pihak Jepang dapat melihat langsung potensi perikanan di lapangan sehingga peluang kerja sama bisa dibahas lebih lanjut.
"Karena itu, jika memungkinkan, kita bisa berdiskusi langsung di lapangan untuk melihat bagaimana potensi yang ada di sana. Karena program prioritas kami di Sumatera Utara salah satunya adalah hasil laut dan perikanan. Bagaimana ini bisa menjadi besar," kata Bobby.
Sementara itu, Furugori Toru mengapresiasi upaya pembangunan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumut. Ia menyebut beberapa bidang yang menjadi perhatian Jepang di Sumut, di antaranya pengembangan SDM, lingkungan, energi, dan teknologi pertanian.
Menurut Furugori, pengalaman warga Indonesia yang bekerja di Jepang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan setelah mereka kembali ke Tanah Air.
Jepang juga memiliki teknologi pengolahan limbah industri dan teknologi pertanian yang berpotensi mendukung peningkatan produktivitas di Indonesia.
"Untuk pengembangan SDM, warga Indonesia yang bekerja di Jepang bisa membawa pengalamannya bekerja untuk bisa diterapkan di Indonesia. Juga ada teknologi pengolahan limbah industri. Termasuk teknologi pertanian sehingga bisa meningkatkan produksi," ujarnya.
Furugori mengatakan dirinya akan segera mengakhiri masa tugas di Sumut dan kembali ke Jepang. Meski demikian, ia berkomitmen menyampaikan peluang kerja sama yang dibahas dalam pertemuan tersebut kepada pejabat yang akan menggantikannya.