JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Rupiah naik 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.899 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Salah satu perhatian pasar berasal dari perkembangan konflik di Yaman.
Ibrahim mengatakan pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dengan dukungan serangan udara Arab Saudi, disebut berhasil merebut Kota Mocha dari kelompok Houthi.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat 1,21 Persen ke Level 6.192, Seluruh Sektor Parkir di Zona Hijau "Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa kota tersebut telah berhasil direbut," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Kelompok Houthi juga membantah klaim mengenai keberhasilan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi tersebut.
Houthi disebut masih mencatat kemajuan di sekitar Taiz dengan menguasai sejumlah jalur pegunungan. Selain itu, kelompok tersebut dilaporkan telah melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Arab Saudi.
Perkembangan geopolitik tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar karena dapat memengaruhi kondisi ekonomi global dan pergerakan mata uang.
Dari Amerika Serikat, pasar juga mencermati perkembangan data inflasi dan ketenagakerjaan. Laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus disebut berada di bawah ekspektasi, sementara sejumlah data sebelumnya direvisi turun.
Kondisi tersebut dinilai mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada pertemuan 27-28 Oktober 2026.
Pasar selanjutnya menunggu risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September serta data klaim awal tunjangan pengangguran AS yang akan menjadi perhatian investor.
Dari dalam negeri, sentimen positif turut datang dari proyeksi Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2 persen.
Proyeksi tersebut naik 0,5 poin persentase. Menurut Ibrahim, aktivitas ekonomi Indonesia didukung peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara serta subsidi energi.