JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda masih dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, mulai dari penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak hingga tingginya imbal hasil obligasi AS.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp18.000 per dolar AS atau melemah 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.978 per dolar AS.
Pelemahan berlanjut pada perdagangan pagi. Sekitar pukul 10.10 WIB, rupiah berada di level Rp18.020 per dolar AS atau melemah 42 poin atau 0,23 persen.
Baca Juga: BI Buka-bukaan Penyebab Dolar AS Tembus Rp18.000 Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh kenaikan harga minyak dunia.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kenaikan harga minyak hingga di atas US$108 per barel terjadi di tengah belum tercapainya kesepakatan pembukaan Selat Hormuz.
"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9/2026).
Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi di dalam negeri. Pada saat bersamaan, pasar kembali memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Ekspektasi tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury (UST) 10 tahun yang kembali mencapai 5,23 persen. Level tersebut disebut menjadi yang tertinggi sejak 2007.
Kenaikan yield obligasi AS membuat aset berbasis dolar menjadi relatif lebih menarik bagi investor. Kondisi itu dapat mendorong arus dana keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, BI juga mencatat peningkatan kebutuhan valuta asing dari importir menjelang akhir kuartal III 2026. Kebutuhan dolar tersebut semakin besar ketika harga minyak dunia berada pada level tinggi.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah masih didominasi faktor eksternal. Menurutnya, penguatan dolar AS, tingginya yield Treasury AS dan kenaikan harga minyak menjadi sejumlah pemicu utama.
"Pelemahan rupiah umumnya masih oleh faktor eksternal, dollar AS yang kuat, yield Treasury AS yang tinggi, serta kenaikan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan kebutuhan dollar," kata Lukman.