MEDAN — Harga cabai merah yang melonjak sekitar 50 persen diproyeksikan menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Sumatera Utara pada September 2026.
Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memperkirakan Sumut akan mengalami inflasi secara bulanan atau month to month (mtm) pada September 2026.
Kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjadi salah satu faktor yang mendorong tekanan inflasi tersebut.
Baca Juga: Bobby Nasution Bawa Kabar Baik untuk Mahasiswa UMSU, Siapkan Beasiswa Khusus dan Dukung Pembangunan Kampus IV "Dari keseluruhan komoditas yang berfluktuasi, saya memperkirakan inflasi Sumut pada September secara bulanan akan mencapai 0,3 persen, atau bahkan melebihi angka tersebut," ujar Gunawan, Senin, 28 September 2026.
Menurut Gunawan, selain cabai merah, sejumlah bahan pangan lainnya juga mengalami kenaikan harga.
Sawi hijau tercatat naik sekitar 50 persen, daging ayam 7 persen, dan telur ayam 1,3 persen.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah komoditas lain, seperti ikan gembung, udang, ikan tongkol, wortel, ikan dencis, dan bayam.
Di sisi lain, beberapa kebutuhan masyarakat justru mengalami penurunan harga.
Cabai rawit turun hingga 16 persen, minyak goreng curah 0,9 persen, bawang merah sekitar 7 persen, tomat 14 persen, dan kentang 12 persen.
Penurunan harga juga terjadi pada kacang panjang hingga emas perhiasan.
Gunawan mengatakan kenaikan tekanan inflasi pada September lebih banyak dipengaruhi gangguan pasokan komoditas pangan.
Salah satu penyebabnya adalah berakhirnya musim panen cabai di sejumlah wilayah Sumatera Utara, termasuk Kabupaten Batubara.