MEDAN - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Utara menyoroti tingginya biaya logistik di wilayah tersebut yang disebut mencapai sekitar 30 persen dari harga produk. Kondisi itu dinilai menekan daya saing pelaku usaha dan produk lokal di pasar.
Ketua Umum Kadin Sumut Firsal Dida Mutyara mengatakan tingginya biaya logistik tidak terlepas dari kondisi infrastruktur, khususnya jalan provinsi serta jalan kabupaten dan kota yang belum memadai.
"Banyak permasalahan kualitas jalan provinsi dan kabupaten kota yang tidak baik sehingga menimbulkan biaya logistik yang tinggi. Kita sama-sama tahu bahwa dari komponen harga produk yang ada di Sumatera Utara ini 30 persen adalah biaya logistik," kata Dida.
Baca Juga: Sembunyi di Dasbor Innova demi Pasok Aceh, Kurir 668 Vape Etomidate Disergap Polda Sumut Menurut Dida, tingginya ongkos distribusi membuat pelaku usaha di Sumut kesulitan bersaing. Kondisi tersebut juga berpotensi membuat pengusaha lokal hanya menjadi penonton di daerah sendiri.
"Dengan biaya logistik yang 30 persen, teman-teman ini tidak bisa bersaing. Nah, akhirnya menjadi penonton di daerah sendiri," ujarnya.
Hal itu disampaikan Dida dalam Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) Kadin Sumut 2026 di Medan, Kamis (24/9/2026). Dalam forum tersebut, Kadin juga menyoroti ketimpangan pembangunan antara kawasan Medan dan Pantai Timur dengan wilayah Pantai Barat, Tapanuli serta Kepulauan Nias.
Kadin Sumut mendorong pemerintah memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap komoditas mentah seperti sawit dan karet. Hilirisasi dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah hasil produksi daerah.
Selain persoalan infrastruktur dan hilirisasi, Dida menyoroti akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta nelayan yang dinilai masih menghadapi kendala karena belum memenuhi persyaratan perbankan.
Karena itu, Kadin meminta perbankan menyiapkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel sesuai karakteristik usaha masyarakat.
Menjelang 2027, Dida berharap pemerintah daerah memberikan kepastian usaha dan kemudahan perizinan agar dunia usaha dapat berperan lebih besar dalam pembangunan.
"Mohon diberikan karpet merah untuk kami untuk berinvestasi sehingga bisa memberikan manfaat lebih untuk Provinsi Sumatera Utara," katanya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Timur Tumanggor mengatakan Pemprov Sumut tidak dapat mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa keterlibatan dunia usaha.