JAKARTA- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (23/9/2026). Rupiah naik 66 poin atau sekitar 0,37 persen ke level Rp17.818 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar mencermati perkembangan diplomasi terkait konflik Iran dan Amerika Serikat yang bertepatan dengan agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Namun, Iran dan AS saling melontarkan ancaman baru pada hari Minggu di tengah kebuntuan situasi, meskipun Presiden Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dijadwalkan berada di New York minggu ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Ditutup Menguat 1,56 Persen ke Level 6.374, Merekam Sentimen BI Rate Iran sebelumnya disebut telah menyampaikan sejumlah syarat kepada pihak penengah untuk kembali ke meja perundingan guna mencari penyelesaian konflik dengan AS. Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tinggi.
Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran juga menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi di Riyadh, Arab Saudi, menggunakan rudal dan drone. Mereka juga mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Yanbu, yang menjadi salah satu pusat ekspor minyak di kawasan tersebut.
Situasi tersebut turut berdampak pada jalur distribusi energi. Serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Saudi Aramco disebut mendorong perusahaan energi negara tersebut meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz pada bulan ini dan bulan depan setelah sebagian pengiriman melalui Yanbu dihentikan.
Dari Amerika Serikat, pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang dijadwalkan berbicara pekan ini. Pernyataan tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Sementara dari dalam negeri, pasar memperhatikan kebijakan pemerintah terkait pembentukan bursa komoditas untuk mengendalikan harga. Pengaturan teknis kebijakan tersebut nantinya akan berada di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
OJK disebut akan menentukan produk yang diperdagangkan serta tahapan pelaksanaannya dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan dan integritas pasar. Pengaturan bursa komoditas tersebut dijadwalkan beralih dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke OJK mulai 1 Januari 2027.
Pasar juga mencermati kebijakan Bank Indonesia di tengah dinamika nilai tukar, inflasi dan arah kebijakan bank sentral global.
Selain itu, perhatian tertuju pada postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Dalam rancangan tersebut, pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp3.426 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp4.097,2 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran diproyeksikan sebesar 2,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ibrahim menilai besaran defisit perlu dilihat bersama sejumlah faktor lain, seperti kualitas belanja, beban pembayaran bunga utang, tingkat kekakuan pengeluaran serta kemampuan anggaran menghadapi guncangan ekonomi.