JAKARTA — Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Kamis, 10 September 2026, dengan sedikit tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Investor cenderung menahan transaksi sambil menunggu sejumlah data ekonomi yang akan dirilis.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah melemah 0,01 persen atau turun 1 poin ke level Rp17.512 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat 0,29 Persen ke 6.697,75, Saham CUAN hingga ANTM Jadi Penggerak Pelemahan tipis rupiah tersebut sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di bawah tekanan terhadap dolar AS.
Rupee India menjadi mata uang yang mengalami pelemahan paling dalam, yakni 0,30 persen.
Kemudian dolar Taiwan melemah 0,10 persen dan peso Filipina turun 0,02 persen.
Yuan Cina melemah 0,01 persen, sedangkan ringgit Malaysia juga terkoreksi 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru menguat. Won Korea Selatan menguat 0,20 persen terhadap dolar AS, diikuti yen Jepang yang naik 0,14 persen.
Baht Thailand menguat 0,09 persen, dolar Singapura naik 0,05 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah sebenarnya masih memiliki peluang untuk menguat terhadap dolar AS jika dilihat dari kondisi teknikal dan fundamental.
Namun, potensi penguatan tersebut diperkirakan terbatas karena investor memilih bersikap wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi.
Investor akan mencermati data penjualan ritel Indonesia periode Juli.