JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa, 8 September 2026, dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pergerakan rupiah dibayangi kenaikan harga minyak dunia di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah berada di level Rp17.641 per dolar AS.
Baca Juga: Rentetan Bencana Hantam Indonesia, Bagaimana Dampaknya terhadap Ekonomi Nasional? Posisi tersebut melemah 0,01 persen atau 1 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah juga terjadi bersamaan dengan ringgit Malaysia dan yuan Cina.
Ringgit melemah 0,02 persen, sedangkan yuan turun 0,01 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia lainnya bergerak menguat terhadap dolar AS pada perdagangan pagi.
Yen Jepang menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS, yakni 0,73 persen.
Penguatan berikutnya terjadi pada won Korea Selatan yang naik 0,62 persen. Dolar Taiwan menguat 0,23 persen, sedangkan peso Filipina naik 0,20 persen.
Baht Thailand menguat 0,19 persen dan dolar Singapura naik 0,12 persen terhadap dolar AS.
Adapun rupee India dan dolar Hong Kong cenderung bergerak stagnan.
Pergerakan mata uang Asia tersebut menjadi salah satu sentimen yang mewarnai perdagangan rupiah pada awal pekan ini.