JAKARTA - Anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam RAPBN 2027 ditetapkan sebesar Rp240,2 triliun. Nilai tersebut turun dibandingkan anggaran MBG tahun 2026 yang mencapai Rp268 triliun.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman menilai penurunan anggaran tersebut justru dapat menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional, selama belanja MBG mampu memberikan efek pengganda yang kuat ke sektor domestik.
"Anggaran MBG sebesar Rp240 triliun pada 2027 tetap sangat besar dan secara prinsip bisa menjadi sinyal positif bagi perekonomian, sepanjang belanja tersebut memiliki efek pengganda yang kuat ke sektor domestik," kata Rizal, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: BEM USU Gelar Aksi di Lapangan Merdeka, Kritik MBG hingga Kebijakan Pemerintah: Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka? Menurut Rizal, manfaat MBG tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah makanan bergizi yang diberikan kepada penerima manfaat. Program tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi di dalam negeri.
Produksi pangan, peternakan, perikanan, UMKM, logistik hingga penyerapan tenaga kerja lokal dinilai dapat ikut terdorong apabila rantai pasok MBG melibatkan pelaku usaha domestik secara luas.
Rizal menegaskan keberhasilan MBG bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran. Hal yang lebih penting adalah value for money, yakni seberapa efektif setiap rupiah anggaran mampu meningkatkan kualitas gizi sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi produktif.
Sebaliknya, anggaran besar berpotensi memberikan dampak ekonomi yang terbatas apabila tidak dibarengi tata kelola yang baik, ketepatan sasaran dan kemampuan pelaksanaan di lapangan.
"Manfaat MBG di tahun ini sudah mulai terasa ke sektor pertanian, peternakan, dan UMKM, namun belum optimal," ujarnya.
Rizal mengatakan kunci utama program tersebut adalah kemampuan pemerintah memastikan belanja MBG benar-benar menyerap produk lokal, meningkatkan pendapatan produsen serta menciptakan lapangan kerja.
"Kuncinya bukan hanya besarnya anggaran, melainkan seberapa besar belanja MBG benar-benar menyerap produk lokal, meningkatkan pendapatan produsen, dan menciptakan lapangan kerja," jelasnya.
Dia mengingatkan, jika rantai pasok MBG masih didominasi pemasok besar, dampak pengganda terhadap perekonomian nasional akan menjadi lebih terbatas. Karena itu, keterlibatan pelaku usaha kecil dan produsen lokal menjadi salah satu faktor penting.
Sebelumnya, muncul informasi yang menyebut anggaran MBG dalam RAPBN 2027 mencapai Rp480 triliun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah angka tersebut.