YOGYAKARTA — Masyarakat yang tercatat dalam desil 9 atau 10 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) belum tentu merasa memiliki kondisi ekonomi yang mapan.
Perbedaan tersebut dapat terjadi karena masyarakat dan pemerintah menggunakan cara yang berbeda dalam melihat tingkat kesejahteraan.
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho menjelaskan masyarakat umumnya menilai kondisi ekonomi berdasarkan pendapatan, pengeluaran, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Penerima Bantuan Beras Bulog Medan Berkurang 9.574, Ini Penyebabnya Sementara pemerintah menentukan posisi desil dengan menggunakan berbagai indikator sosial dan ekonomi rumah tangga.
Indikator tersebut antara lain aset, kepemilikan dan kondisi rumah, kendaraan bermotor, serta karakteristik rumah tangga lainnya.
Perbedaan pendekatan tersebut memungkinkan seseorang masuk desil 9 atau 10 meski dalam kehidupan sehari-hari masih merasa harus berhemat.
"Seorang bisa masuk desil 9 atau 10, tetapi bisa jadi hidup memang pas-pasan dan dua-duanya tetap benar," ujar Wisnu, dikutip dari laman UGM, Kamis, 20 Agustus 2026.
Apa Itu Desil dalam DTSEN?
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonominya.
Dalam DTSEN, masyarakat dikelompokkan menjadi 10 kelompok atau desil.
"Desil 1 merupakan 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah, sedangkan desil 10 merupakan 10 persen dengan tingkat kesejahteraan tertinggi," kata Ari, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Dengan demikian, desil lebih tepat dipahami sebagai posisi relatif sebuah rumah tangga dibandingkan rumah tangga lainnya, bukan ukuran kekayaan seseorang secara mutlak.