JAKARTA — Nilai tukar rupiah membuka perdagangan pada Kamis, 13 Agustus 2026, dengan pelemahan tipis.
Rupiah turun 0,02 persen ke level Rp17.878 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan rupiah terjadi ketika sejumlah mata uang Asia justru bergerak menguat.
Baca Juga: Prabowo Usulkan 4 Calon Pejabat BI, Ini Daftarnya Pada saat yang sama, harga minyak turun 1,12 persen menjadi US$87,98 per barel.
Sebagian besar mata uang kawasan Asia mempertahankan penguatan.
Dolar Taiwan menguat 0,24 persen, baht Thailand 0,21 persen, dan won Korea Selatan 0,18 persen.
Sementara itu, yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan Cina juga menguat, meski dalam level yang lebih terbatas.
Pelemahan tipis rupiah ketika mata uang kawasan menguat menunjukkan investor masih menyimpan kekhawatiran terhadap aset rupiah.
Kekhawatiran tersebut dapat berasal dari faktor domestik maupun persepsi risiko eksternal.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah arah kebijakan Bank Indonesia, terutama di tengah proses pergantian jajaran pimpinan bank sentral.
Investor masih mencermati nama-nama yang akan mengisi posisi dalam otoritas moneter Indonesia.
Kepastian bahwa pos Gubernur BI akan diisi oleh Destry Damayanti memang telah mengurangi ketidakpastian di pasar.