JAKARTA - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (10/8/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.755 per dolar AS, menguat 142 poin atau 0,79 persen dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.897 per dolar AS.
Penguatan rupiah juga tercermin dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Kurs JISDOR pada Senin berada di level Rp17.795 per dolar AS, menguat dari sebelumnya Rp17.913 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah salah satunya ditopang kondisi konsumen dalam negeri yang masih menunjukkan optimisme terhadap perekonomian.
Baca Juga: Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Ekonom: Pilihan Tepat Berdasarkan data BI, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 berada di level 116,8. Angka tersebut memang turun dibandingkan Juni yang mencapai 117,8, tetapi masih berada di atas level 100 yang menunjukkan konsumen tetap optimistis.
IKK Juli 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 107,9 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 125,7. Keduanya masih berada dalam zona optimistis.
Meski demikian, tren penurunan IKK selama tiga bulan terakhir menjadi perhatian. Kondisi tersebut menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam menilai kondisi ekonomi dan menentukan pengeluaran.
Jika tren tersebut berlanjut, pertumbuhan konsumsi domestik berpotensi ikut terpengaruh karena masyarakat cenderung menahan belanja dan lebih selektif menggunakan pendapatan.
Sentimen lain yang turut diperhatikan pasar adalah pengajuan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto. Surat Presiden terkait pengajuan tersebut telah disampaikan kepada pimpinan DPR untuk diproses lebih lanjut.
Dari sisi global, pasar juga mencermati perkembangan hubungan Iran dan Oman yang berpotensi berdampak terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selain itu, meredanya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Data ketenagakerjaan AS yang sebelumnya menunjukkan pelemahan juga menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar memperkirakan ruang kenaikan suku bunga The Fed semakin terbatas dalam beberapa bulan mendatang.
Pelaku pasar selanjutnya akan menunggu rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk periode Juli pada Rabu (12/8/2026). Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.