JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat.
Pada perdagangan awal pekan, rupiah menguat 0,26 persen ke level Rp17.844 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah kenaikan kembali harga minyak mentah dunia yang berada di kisaran US$84 per barel.
Baca Juga: Harga Pangan Awal Pekan Naik: Beras dan Cabai Makin Mahal Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar karena kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara pengimpor energi.
Pergerakan mata uang Asia pada awal perdagangan menunjukkan respons yang beragam terhadap kenaikan harga minyak.
Rupiah menguat bersama dolar Taiwan, peso Filipina, baht Thailand, dan ringgit Malaysia.
Sebaliknya, won Korea Selatan melemah bersama yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan offshore.
Penguatan sejumlah mata uang Asia tidak terlepas dari strategi bank sentral masing-masing negara dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Kebijakan tersebut dilakukan dengan berupaya memperkuat posisi mata uang tanpa menguras cadangan devisa secara berlebihan.
India menjadi salah satu contoh. Negara tersebut disebut menarik hampir US$40 miliar dari diaspora melalui deposito dolar dengan tingkat bunga yang tinggi.
Strategi tersebut dinilai turut membantu pemulihan rupee setelah sebelumnya berada di posisi terendah pada Mei.
Sementara Korea Selatan dikabarkan mendorong percepatan repatriasi dolar korporasi.