JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp17.941 per dolar AS atau turun 18 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.923 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.12 WIB, pelemahan rupiah terjadi setelah sehari sebelumnya sempat mencatat penguatan terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di kisaran Rp17.914 per dolar AS pada waktu yang sama. Posisi tersebut masih lebih baik dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya di level Rp17.932 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp29.000, Cek Harga Terbaru 1 Gram hingga 1 Kg Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.920 hingga Rp17.970 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, penurunan harga energi membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap langkah lanjutan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 55 persen, turun dari 67 persen dalam dua hari sebelumnya. Investor juga masih menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, terutama laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dinilai menjadi indikator penting arah kebijakan moneter The Fed.
Di sisi lain, laporan ADP National Employment menunjukkan perekrutan tenaga kerja sektor swasta di Amerika Serikat melambat sepanjang Juli, sehingga perhatian pasar kini tertuju pada data tenaga kerja resmi yang akan diumumkan pada Jumat.
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen menjadi sentimen positif bagi pasar. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, angka tersebut masih melampaui ekspektasi sehingga pertumbuhan ekonomi semester I 2026 tercatat mencapai 5,45 persen.
Selain data ekonomi, pelaku pasar juga menantikan hasil peninjauan indeks MSCI serta pengumuman FTSE Russell yang dijadwalkan berlangsung pada 10–14 Agustus 2026. Kedua agenda tersebut diperkirakan akan turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.* (mt/dh)