BANDA ACEH – Kelangkaan semen di sejumlah wilayah Aceh memicu lonjakan harga yang dinilai membebani masyarakat dan pelaku usaha konstruksi. Di tengah meningkatnya kebutuhan material pascabanjir, harga semen yang sebelumnya berkisar Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per sak kini dilaporkan melonjak menjadi Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per sak.
Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Nazrul Zaman. Menurutnya, situasi ini menjadi ironi karena Aceh merupakan daerah penghasil semen dengan keberadaan pabrik PT Solusi Bangun Andalas (SBA) di Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.
"Situasi di lapangan seolah menggambarkan kiasan 'tikus mati di lumbung padi'. Masyarakat kesulitan mendapatkan semen di daerahnya sendiri meski basis produksinya berada sangat dekat," kata Nazrul Zaman kepada wartawan di Banda Aceh, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga: Kapolres Aceh Selatan Janji Bedah Rumah Janda Eks Kombatan GAM, Siapkan Modal UMKM untuk Bangkit Ia menilai lonjakan harga memang dipengaruhi meningkatnya permintaan akibat percepatan pembangunan dan rehabilitasi pascabanjir. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan alasan pembenaran atas kelangkaan yang terjadi dalam waktu cukup lama.
Nazrul menduga terdapat persoalan dalam rantai distribusi, termasuk kemungkinan alokasi pasokan ke luar daerah yang lebih besar dibanding kebutuhan lokal. Selain itu, ia juga menyoroti adanya dugaan praktik spekulasi maupun penimbunan oleh oknum tertentu yang memanfaatkan tingginya permintaan.
Menurutnya, kelangkaan semen berdampak langsung terhadap proses rehabilitasi rumah warga terdampak banjir, pembangunan fasilitas umum, hingga proyek-proyek strategis pemerintah daerah. Sejumlah kontraktor juga disebut mengalami pembengkakan biaya sehingga terpaksa menunda pekerjaan yang sedang berjalan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Nazrul meminta Pemerintah Aceh segera melakukan langkah konkret melalui koordinasi dengan produsen dan distributor guna memastikan kebutuhan semen masyarakat Aceh terpenuhi.
Ia juga mendorong Satgas Pangan bersama instansi terkait melakukan inspeksi mendadak (sidak), operasi pasar, serta pengawasan terhadap distribusi semen guna mencegah praktik penimbunan maupun permainan harga di tingkat distributor dan pedagang.
Selain itu, aparat penegak hukum diminta mengambil tindakan apabila ditemukan pelanggaran yang menyebabkan terganggunya pasokan dan melonjaknya harga di pasaran.
Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Efendi, sebelumnya mengakui adanya kelangkaan semen di Aceh. Pemerintah Aceh, kata dia, telah memanggil pihak PT Solusi Bangun Andalas (SBA) untuk membahas persoalan tersebut. Namun hingga kini, harga semen di lapangan masih terpantau tinggi.
Seorang pemilik toko bangunan di Aceh Besar yang enggan disebutkan namanya juga membenarkan harga semen produksi Andalas mengalami kenaikan signifikan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi mengingat semen tersebut diproduksi di Aceh Besar, tetapi masyarakat setempat justru kesulitan memperoleh pasokan dengan harga normal.* (dh)